Monday, August 31, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Makin Pintar, Tapi Apakah Manusia Makin Bodoh?

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 16.23 WIB
ai_makin_pintar_tapi_apakah_manusia_makin_bodoh

Ilustrasi, AI Makin Pintar, Tapi Apakah Manusia Makin Bodoh? (foto:livescience/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (31/8/2026) — Ada satu eksperimen sederhana yang mungkin kini terjadi hampir setiap hari di kamar seorang siswa.

Guru memberikan tugas esai. Siswa membaca soal, membuka laptop, lalu mengetik pertanyaan ke chatbot AI. Beberapa detik kemudian, sebuah jawaban lengkap muncul. Ada pembukaan, argumen, contoh, bahkan kesimpulan.

Tugas selesai.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah siswa tersebut juga belajar?

Di sinilah paradoks kecerdasan buatan generatif mulai terasa. AI dapat membuat pekerjaan akademik menjadi jauh lebih cepat, tetapi kecepatan menyelesaikan tugas tidak selalu sama dengan keberhasilan belajar.

Sejumlah penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar apakah siswa menggunakan AI, melainkan bagaimana mereka menggunakannya.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2026, misalnya, menganalisis 299 mahasiswa STEM dari lima universitas di Amerika Utara. Peneliti menemukan bahwa siswa yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap AI dan menggunakannya secara rutin melaporkan keterlibatan kognitif yang lebih rendah, termasuk dalam refleksi, kebutuhan untuk memahami dan berpikir kritis.

Temuan tersebut belum berarti bahwa AI otomatis membuat manusia menjadi “bodoh”. Namun, ia memberi peringatan penting: ketika mesin terlalu sering mengambil alih proses berpikir, manusia mungkin kehilangan kesempatan untuk melatih otot kognitifnya.

Ketika AI Mengambil Alih Bagian Tersulit dari Belajar

Belajar pada dasarnya bukan sekadar memperoleh jawaban.

Seorang siswa belajar ketika ia mencoba mengingat sesuatu, membuat kesalahan, mencari hubungan antara konsep, menyusun argumen, mempertanyakan informasi, kemudian memperbaiki pemahamannya.

Masalahnya, semua proses tersebut membutuhkan usaha.

AI menawarkan jalan pintas.

Jika siswa tidak tahu cara memulai esai, AI dapat memberikan kerangka. Jika tidak tahu arti sebuah konsep, AI dapat menjelaskannya. Jika kesulitan membuat kesimpulan, AI dapat menuliskannya. Bahkan ketika siswa tidak memahami persoalan matematika, chatbot dapat menyelesaikan langkah demi langkah.

Kemudahan itu sangat berguna.

Tetapi justru karena mudah, muncul risiko cognitive offloading—memindahkan sebagian beban berpikir kepada teknologi.

Penelitian Microsoft Research terhadap 319 pekerja pengetahuan menemukan pola yang menarik. Semakin tinggi kepercayaan seseorang terhadap kemampuan AI dalam tugas tertentu, semakin rendah kecenderungan mereka melibatkan pemikiran kritis. Pada saat yang sama, bentuk berpikir kritis tidak hilang sepenuhnya, melainkan bergeser menjadi aktivitas seperti memeriksa informasi, mengintegrasikan jawaban AI dan mengawasi hasil pekerjaan.

Jika pola tersebut juga terjadi pada siswa, persoalannya menjadi lebih serius.

Sebab siswa bukan pekerja profesional yang sudah memiliki fondasi pengetahuan kuat. Mereka masih berada dalam tahap membangun fondasi tersebut.

Seorang mahasiswa yang sudah memahami cara menyusun argumen mungkin dapat menggunakan AI sebagai editor.

Tetapi seorang siswa yang belum pernah belajar menyusun argumen dan langsung meminta AI membuatkannya berisiko kehilangan proses latihan yang justru paling penting.

Apakah Siswa yang Selalu Memakai AI Kehilangan Kemampuan Berpikir Kritis?

Jawabannya tidak sesederhana “ya”.

AI tidak otomatis menghilangkan kemampuan berpikir kritis. Yang menentukan adalah apakah siswa menggunakan AI sebagai pengganti berpikir atau sebagai partner berpikir.

Bayangkan dua siswa mendapat tugas yang sama.

Siswa pertama berkata:

“Buatkan esai 1.000 kata tentang perubahan iklim.”

AI bekerja. Siswa menyalin, mengedit sedikit, lalu mengumpulkan.

Siswa kedua bertanya:

“Apa tiga argumen utama yang bisa digunakan untuk membahas dampak perubahan iklim? Jangan berikan jawabannya dulu. Ajukan pertanyaan agar saya bisa menyusun argumen sendiri.”

Keduanya menggunakan AI.

Tetapi proses belajarnya berbeda total.

Pada siswa pertama, AI mengambil alih pekerjaan intelektual.

Pada siswa kedua, AI menjadi alat untuk memancing proses berpikir.

Perbedaan tersebut penting karena UNESCO sendiri menempatkan human agency, berpikir kritis dan etika sebagai kemampuan utama dalam pendidikan di era AI. Kerangka kompetensi AI untuk siswa yang diterbitkan UNESCO bahkan menempatkan kemampuan menilai secara kritis solusi AI sebagai bagian penting dari pendidikan AI.

Jadi pertanyaan yang seharusnya diajukan sekolah bukan lagi, “Apakah siswa boleh memakai AI?”

Pertanyaannya harus berubah menjadi:

“Bagian mana dari proses belajar yang boleh dibantu AI, dan bagian mana yang harus tetap dilakukan manusia?”

Menulis Mungkin Menjadi Skill yang Semakin Penting

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN