Monday, August 31, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Makin Pintar, Tapi Apakah Manusia Makin Bodoh?

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 16.23 WIB
ai_makin_pintar_tapi_apakah_manusia_makin_bodoh

Ilustrasi, AI Makin Pintar, Tapi Apakah Manusia Makin Bodoh? (foto:livescience/gemini/mistar)

news_banner

Lalu, Guru atau AI: Siapa yang Lebih Efektif?

Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti pertandingan.

Tetapi hasil penelitian justru menunjukkan bahwa jawabannya lebih rumit.

Pada 2025, sebuah randomized controlled trial membandingkan pembelajaran menggunakan tutor AI dengan pembelajaran aktif di kelas. Dalam konteks dan desain eksperimen tersebut, mahasiswa yang menggunakan tutor AI belajar lebih banyak dalam waktu lebih singkat dan melaporkan tingkat keterlibatan serta motivasi yang lebih tinggi.

Namun, penelitian lain memberikan gambaran yang lebih hati-hati.

Eksperimen dua tahun terhadap 18 sekolah menengah di Tennessee yang diterbitkan NBER pada Agustus 2026 menemukan bahwa penggunaan Khanmigo sebagai tutor matematika meningkatkan capaian matematika siswa, tetapi besarnya peningkatan mirip dengan hasil yang diperoleh melalui praktik Khan Academy tanpa bantuan AI. Peneliti juga menemukan masalah utama pada keterlibatan: meski 96 persen siswa mencoba Khanmigo setidaknya sekali, penggunaan percakapan substantif dengan tutor AI relatif rendah.

Artinya, memberikan AI kepada siswa tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang luar biasa.

AI bisa menjadi tutor yang sangat sabar. Ia tidak bosan menjelaskan konsep yang sama berkali-kali. Ia dapat memberikan respons personal dan tersedia kapan saja.

Tetapi guru memiliki sesuatu yang berbeda.

Guru dapat membaca ekspresi siswa ketika mereka tidak memahami pelajaran.

Guru mengenal konteks sosial dan emosional kelas.

Guru dapat menentukan kapan siswa membutuhkan tantangan dan kapan mereka justru membutuhkan dorongan.

Guru juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter, bukan hanya memberikan informasi.

Karena itu, pertanyaan “guru versus AI” mungkin merupakan pertanyaan yang salah.

Masa depan pendidikan kemungkinan bukan guru atau AI, melainkan guru dengan AI.

Bahaya Terbesar Bukan AI yang Terlalu Pintar

Bahaya terbesar mungkin justru terjadi ketika manusia berhenti merasa perlu berpikir.

Bayangkan sebuah generasi yang sejak sekolah dasar terbiasa meminta AI merangkum buku, menyelesaikan soal, membuat presentasi, menulis esai dan memberikan ide.

Mereka mungkin menjadi sangat produktif.

Tetapi apakah mereka mampu duduk selama 30 menit menghadapi persoalan yang belum memiliki jawaban tanpa langsung meminta mesin menyelesaikannya?

Di situlah kemampuan intelektual benar-benar diuji.

Penelitian terbaru tentang penggunaan AI dalam pendidikan memang belum memberikan jawaban final mengenai dampak jangka panjangnya. Namun, bukti yang tersedia sudah cukup untuk menunjukkan bahwa penggunaan AI yang pasif dan berlebihan dapat menjadi masalah, sementara penggunaan yang dirancang dengan baik dapat membantu proses belajar. Tinjauan empiris Microsoft Research juga menekankan bahwa pendidikan memiliki tujuan yang berbeda dari sekadar produktivitas kerja, termasuk menjaga kemampuan berpikir kritis dan perkembangan sosial siswa.

Maka, solusi pendidikan bukan melarang AI secara total.

Tetapi juga bukan membiarkan siswa menyerahkan seluruh pekerjaan berpikir kepada AI.

Yang dibutuhkan adalah desain pembelajaran yang memaksa siswa tetap berpikir.

AI boleh membantu mencari ide, tetapi siswa harus memilih.

AI boleh memberikan kritik, tetapi siswa harus memutuskan.

AI boleh menjelaskan konsep, tetapi siswa harus mampu menjelaskannya kembali.

AI boleh membantu menulis, tetapi siswa harus memahami setiap kalimat yang mereka kumpulkan.

Mungkin Bukan AI yang Membuat Manusia Bodoh

Pada akhirnya, judul “AI Makin Pintar, Tapi Apakah Manusia Makin Bodoh?” mungkin menyimpan jawaban yang tidak nyaman.

AI tidak membuat manusia bodoh. Ketergantungan tanpa proses berpikirlah yang berpotensi membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir.

Teknologi selalu mengambil alih sebagian pekerjaan manusia.

Kalkulator mengambil alih sebagian pekerjaan berhitung. Mesin pencari mengambil alih sebagian pekerjaan mengingat lokasi dan informasi. GPS mengambil alih sebagian pekerjaan membaca peta.

Namun, AI berbeda dalam satu hal penting.

Ia tidak hanya mengambil alih pekerjaan fisik atau pekerjaan rutin.

AI mulai mengambil alih pekerjaan yang selama ini kita anggap sebagai inti aktivitas intelektual: menulis, merangkum, menjelaskan, menganalisis dan menghasilkan ide.

Karena itu, sekolah menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar mendeteksi apakah sebuah tugas dibuat oleh ChatGPT.

Sekolah harus memastikan bahwa di balik setiap tugas yang dibantu AI masih ada manusia yang benar-benar berpikir.

Sebab tujuan pendidikan bukan menghasilkan siswa yang paling cepat mendapatkan jawaban.

Tujuannya adalah menghasilkan manusia yang, ketika tidak ada jawaban di depan mata, masih mampu mencari, mempertanyakan dan menemukan jawabannya sendiri.

Dan mungkin itulah skill paling penting yang tidak boleh kita outsource kepada mesin.

(berbagaisumber/*/hm27)

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN