Tiga Helikopter Jepang Tiba 10 September untuk Bantu Penanganan Karhutla di Indonesia

Pemandangan drone menunjukkan kebakaran hutan yang membakar sebuah kawasan di Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, 29 Agustus 2026. (foto: reuters/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID – Pemerintah Jepang akan mengirimkan tiga helikopter ke Indonesia untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketiga helikopter tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada 10 September 2026.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dan Jepang dalam penanganan karhutla.
“Terkait dengan kerja sama antara Indonesia dengan Jepang atas bantuan helikopter, tiga helikopter, akan segera datang. Kami mendapat informasinya tanggal 10 baru akan tiba di sini dan tentu ini kami menyambut baik, tentu kerja sama ini,” ujar Berton dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi BNPB, Senin (31/8/2026).
Menurut Berton, pembahasan awal mengenai bantuan helikopter tersebut telah dilakukan antara kedua negara. Namun, BNPB masih menunggu informasi lebih lanjut terkait lokasi pengoperasian dan durasi penggunaan helikopter.
“Pembicaraan awal sudah dilakukan tentu. Dan ini akan tetap kita konsolidasikan hingga akhirnya nanti pesawat tersebut tiba di Indonesia dan beroperasi,” katanya.
Ia menyebutkan, BNPB belum memperoleh informasi secara rinci mengenai wilayah yang nantinya menjadi lokasi operasi helikopter tersebut.
“Berapa lama, di mana, tentu ini kami juga akan mendapatkan informasi lebih lanjut ya sehingga data yang akuratnya nanti kita update. Untuk saat ini kami belum dapat informasi lebih jelas,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Berton juga menyampaikan perkembangan titik panas dan titik api di enam provinsi yang tengah menghadapi karhutla. Ia mengatakan, peningkatan titik api terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
“Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah, relatif menurun,” tuturnya.
Menurut dia, kondisi titik api di tiga provinsi tersebut masih perlu mendapat perhatian. Jarak pandang di sejumlah wilayah juga dilaporkan berkisar 1-2 kilometer.
“Kalau kita perhatikan data dari titik api, di ketiga provinsi ini kita temukan adanya kenaikan titik api. Jarak pandang pun kurang lebih 1 sampai 2 kilometer,” kata Berton.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi. Titik api di wilayah tersebut secara umum mengalami penurunan. Namun, titik panas di Sumatera Selatan justru meningkat signifikan, yakni bertambah 209 titik menjadi 1.013 titik.
“Sedangkan di Riau maupun di Jambi, titik panas berkurang secara signifikan. Jarak pandang pun bervariasi antara 4 sampai 5 kilometer di Riau maupun Sumatera Selatan, sedangkan Jambi sekitar 7 kilometer,” ucapnya.
PREVIOUS ARTICLE
Kemlu Selidiki Dugaan 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia























