Monday, July 13, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Sentuhan Hangat di SMA Negeri 4 Pematangsiantar: MPLS Ramah dan Gerakan Ayah Mengantar Anak Curi Perhatian

Mistar.idSenin, 13 Juli 2026 pukul 17.46 WIB
sentuhan_hangat_di_sma_negeri_4_pematangsiantar_mpls_ramah_dan_gerakan_ayah_mengantar_anak_curi_perhatian

Para pelajar SMA Negeri 4 Kota Pematangsiantar di lingkungan sekolahnya. (foto:abdi/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (13/7/2026) – Langkah kaki ratusan remaja berseragam putih abu-abu pagi itu tampak mantap saat memasuki gerbang SMA Negeri 4 Kota Pematangsiantar di Jalan Pattimura, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Siantar Timur, Senin (13/7/2026). Tidak ada lagi wajah tegang atau ketakutan yang biasanya mewarnai hari pertama sekolah pada masa lalu. Sebaliknya, riuh tawa dan obrolan ringan justru mendominasi halaman sekolah.

Sebanyak 396 peserta didik baru secara resmi memulai lembaran baru mereka melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Dimulainya babak baru ini ditandai dengan upacara bendera yang khidmat dan diikuti seluruh warga sekolah, mulai dari siswa kelas X hingga kakak kelas mereka di kelas XI dan XII.

Kepala SMA Negeri 4 Pematangsiantar, Suratno, menegaskan sekolahnya berkomitmen penuh menerapkan konsep MPLS Ramah sesuai instruksi pemerintah. Era perpeloncoan, bentakan senior, atau tugas-tugas yang merendahkan martabat siswa baru dipastikan telah menjadi bagian dari masa lalu.

"Hari pertama sekolah harus jadi memori yang indah. Anak-anak harus merasa nyaman, aman, dan diterima dengan tangan terbuka," ujar Suratno kepada Mistar.id, Senin (13/7/2026).

Ia menambahkan, esensi MPLS adalah menjembatani proses adaptasi secara humanis, bukan menjadi panggung unjuk senioritas.

"Ini adalah ruang untuk saling mengenal dan mulai membentuk karakter unggul sejak hari pertama," imbuhnya.

Ada pemandangan yang tak biasa sekaligus menyentuh dalam pembukaan MPLS kali ini. Di antara kerumunan orang tua, terlihat barisan para ayah yang meluangkan waktu khusus untuk mengantarkan anak-anak mereka. Hal itu merupakan bagian dari Gerakan Ayah Mengantar Anak (GAMAS) yang sengaja digalakkan pihak sekolah.

Suratno menjelaskan, selama ini tugas mengantar anak ke sekolah sering kali diidentikkan dengan sosok ibu, bahkan tidak sedikit anak yang berangkat sendiri. Melalui GAMAS, sekolah ingin mengubah kebiasaan tersebut.

"Kehadiran seorang ayah di hari pertama sekolah punya magis tersendiri bagi psikologis anak. Ada rasa aman, dukungan moral yang kuat, dan kedekatan emosional yang terbangun ketika sang ayah melepas anaknya untuk memulai perjalanan di jenjang SMA," tutur Suratno dengan nada bangga.

Demi memastikan jalannya kegiatan tetap kondusif, pihak sekolah menerapkan sistem pengawasan berlapis yang melibatkan guru, tenaga kependidikan, hingga pengurus OSIS. Namun, alih-alih mengawasi dengan tatapan intimidatif, para pengurus OSIS justru bertindak sebagai mentor dan teman sebaya yang merangkul adik kelas mereka.

"Sikap intoleransi dan bullying (perundungan) mendapat rapor merah di sini. Sama sekali tidak ada toleransi. Sekolah wajib menjadi rumah kedua yang inklusif, tempat semua anak dihargai tanpa terkecuali," tegas Suratno.

Dimulainya MPLS di SMA Negeri 4 Pematangsiantar ini menjadi potret segar transformasi dunia pendidikan. Sekolah bukan lagi tempat yang menegangkan bagi siswa baru, melainkan ruang tumbuh yang hangat, memadukan kedisiplinan, kepedulian, dan sentuhan keluarga sejak langkah pertama melewati gerbang sekolah. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN