Puluhan Mahasiswa Antusias Ikuti Literasi Visual Budaya Sipaha Lima dan Mangalahat Horbo

Jurnalis foto, Qodrat Al Qadri (kanan) dalam kegiatan semarak budaya yang dimoderatori M Andi Yusri. (foto: Susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Medan antusias mengikuti kegiatan literasi visual budaya di Taman Budaya Kota Medan. Kegiatan Semarak Budaya ini mengangkat tema 'Bingkai Fotografi dalam Literasi Budaya pada Ritual Mangalahat Horbo dan Ritual Sipaha Lima (Parmalim)'.
Pemateri, Qodrat Al Qadri, menekankan pentingnya peran literasi visual sebagai solusi bagi generasi muda dalam mengenal dan melestarikan budaya lokal yang kian tergerus zaman.
Dalam paparannya, Jurnalis foto itu menceritakan pengalamannya memotret pemimpin pusat Parmalim, Raja Marnakkok Naipospos, di Huta Tinggi, Laguboti pada tahun 2010. Foto tersebut kini menjadi saksi sejarah yang tak ternilai harganya karena sang pemimpin telah mangkat pada tahun 2012.
"Saya hadir sebagai saksi visual. Dokumentasi ini menjadi penting karena saat ini pelaksanaan ibadah Parmalim sudah tidak lagi terpusat sepenuhnya di Huta Tinggi, melainkan sudah tersebar di berbagai daerah seperti Medan," ujar Qodrat, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan literasi visual bukan sekadar mengambil gambar, melainkan upaya memahami simbol dan makna di balik sebuah tradisi. Dalam ritual Sipaha Lima, misalnya, terdapat keunikan pada persembahan satu ekor kerbau hitam yang harus dalam kondisi perjaka atau belum pernah kawin.
Selain Parmalim, Qodrat juga menyoroti tradisi Mangalahat Horbo yang merupakan bentuk syukur masyarakat Batak atas hasil panen. Berbeda dengan Sipaha Lima, dalam Mangalahat Horbo kerbau dipersembahkan dengan cara ditombak dan biasanya dilaksanakan dalam pagelaran budaya yang lebih terbuka bagi wisatawan, seperti yang pernah dilakukan di Festival Danau Toba.
"Literasi visual adalah cara kita mewariskan nilai budaya kepada Gen Z yang mungkin lebih menyukai konten audio-visual dibanding teks panjang,” tuturnya.
Menurutnya, dengan visual yang kuat, nilai-nilai sakral dari ritual seperti penggunaan ulos, aturan tanpa alas kaki, hingga filosofi doa penganut Malim dapat tersampaikan dengan lebih efektif.
Dalam kegiatan yang dimoderatori M Andi Yusri itu, muncul pertanyaan dari peserta terkait isu penyiksaan hewan dalam ritual penombakan kerbau yang disebutkan.
Menanggapi hal itu, Qodrat menegaskan posisi jurnalis sebagai pengamat objektif. "Sebagai jurnalis dan saksi visual, kita tidak boleh mengintervensi ritual. Kita menghormati prosesi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya dan keyakinan masyarakat yang sudah berlangsung ratusan tahun," ucapnya.
Qodrat mengajak para pemuda agar menjadi bagian dari pewaris nilai kebudayaan. Ia juga berharap masyarakat luas dapat lebih menghargai keberagaman kepercayaan dan tradisi di Sumatera Utara, sekaligus menjaga agar memori kolektif bangsa tidak hilang meski para pelaku sejarahnya telah tiada.






















