Orang Tua Mengaku Tak Tega Izinkan Anak SD Masuk Sekolah Rakyat

Siswa di SRMP 2 Medan sedang belajar. (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Beberapa orang tua mengaku tak tega melihat anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).
Pasalnya, program SR yang digagas pemerintah dengan memberikan pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu berbasis asrama. Artinya, para peserta didik harus hidup mandiri di asrama dan terpisah dari keluarga.
Alasan utama para orang tua tersebut bukan karena menolak program SR. Tapi, mereka merasa kasihan dan tak tega mengingat anak-anak mereka masih terlalu kecil berpisah dari orang tua.
Seperti yang disampaikan Manalu, 39 tahun. Ayah dari tiga anak itu mengaku belum siap melepas anaknya hidup mandiri di lingkungan lain.
“Kubayangkan anakku, masih kecil dan harus tidur sendiri di asrama. Tak tega hatiku. Di rumah saja, dia masih banyak yang harus kita bantu dan arahkan,” katanya kepada Mistar, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, anak di usia SD masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Ia khawatir, kalau-kalau anaknya akan menangis di malam hari atau jatuh sakit. Selain itu, ia juga khawatir adanya kekerasan atau perundungan, jika anaknya tinggal di asrama dan bergabung dengan siswa lain yang berusia SMP maupun SMA.
“Kalau sudah SMP atau SMA, bisa lah kita lepaskan, sudah lebih besar dia. Tapi kalau masih SD, sepertinya aku belum tega,” tuturnya sembari tersenyum kecil membayangkan hal itu.
Awalnya, Manalu berpikir bahwa SR bukanlah sekolah asrama. Sebagai pekerja kuli bangunan, ia sudah berharap agar anaknya dapat bersekolah di sana, mengingat fasilitas yang diberikan sangat lengkap dan biaya sekolah pun gratis. Namun ketika mengetahui sistem asrama, Manalu berubah pikiran.
Hal yang sama juga disampaikan oleh pekerja swasta, Adi Syah Putra Lubis. Ayah dari enam anak itu mengaku sudah berulang kali dihubungi oleh pihak terkait untuk kesediaan menyekolahkan anaknya di SR.
Adi mengaku masih berat melepas anak-anaknya yang berusia 10 dan 11 tahun untuk masuk SR karena dianggap masih membutuhkan kehadiran orang tua di keseharian mereka.
“Kalau takut sih nggak, cuma rasa kita memang belum tega aja kalau masih SD. Lebih ke perasaan aja, bukan karena hal teknis di SR itu,” ucapnya.
Meski demikian, Adi juga merasa kesal karena walaupun sudah menolak, dirinya masih kerap mendapat tawaran yang sama. Ia bahkan mengajukan agar masyarakat penerima PKH saja yang diwajibkan masuk SR.
“Seolah kita mau ditumbalkan masuk SR, sementara bantuan PKH diberikan ke orang lain, kan gak cocok. Bantuan apapun aku gak pernah dapat, padahal kami juga masuk di desil dua dan aku bekerja sendiri. Makanya kita usulkan yang menerima PKH itu saja masukkan ke SR semua,” katanya lagi.
Adi juga menyebutkan, akan memasukkan anaknya ke pesantren kalau nantinya sudah memasuki jenjang SMP. (hm20)
























