Friday, June 19, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Kurikulum Berbasis Cinta Ubah Atmosfer Belajar di MTsN 2 Medan Jadi Lebih Harmonis

Mistar.idJumat, 19 Juni 2026 21.01
journalist-avatar-top
AA
kurikulum_berbasis_cinta_ubah_atmosfer_belajar_di_mtsn_2_medan_jadi_lebih_harmonis

Sejumlah siswa MTsN 2 Medan mengikuti berbagai kegiatan sejak diterapkannya Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). (Foto: Kementerian Agama Sumatera Utara)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Suasana di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Medan siang itu tampak begitu hidup. Riuh tawa dan selebrasi siswa memecah suasana madrasah usai pelaksanaan ujian akhir semester.

Di lapangan terbuka, sebagian siswa tampak asyik beradu ketangkasan dalam pertandingan badminton, futsal, dan kasti pada gelaran Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).

Di sudut lain, sayup-sayup terdengar harmoni alat musik. Petikan gitar yang dimainkan guru dan siswa berpadu dengan langkah ritmis para peserta yang tengah berlatih tari.

Atmosfer di pertengahan Juni 2026 itu seolah menjelma menjadi bait-bait puitis karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni. Juni menjadi panggung pertemuan antara rasa cinta terhadap kenangan belajar dan perpisahan yang tak terelakkan karena kenaikan kelas.

Namun, sejak madrasah ini mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), pertemuan dan perpisahan tidak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan dua sisi yang saling melengkapi.

Penerapan KBC dinilai membawa peningkatan kualitas pembelajaran dengan memadukan aspek kognitif (kecerdasan intelektual) dan afektif (kecerdasan emosional) dalam proses belajar. Sekat antara pendidik dan peserta didik pun semakin berkurang.

Dafa, siswa kelas VIII, mengaku merasakan perubahan tersebut. Menurutnya, suasana belajar kini jauh berbeda dibandingkan saat ia masih duduk di kelas VII.

“Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian ditanamkan dalam setiap aktivitas pembelajaran,” kata Dafa, Rabu (17/6/2026).

Senada dengan Dafa, Nadrah yang juga siswi kelas VIII mengatakan KBC telah memperluas pemahamannya tentang pentingnya hubungan antarmanusia.

"Kurikulum ini mengajarkan kami untuk mencintai sesama manusia dan menjaga lingkungan, sekaligus bergerak bersama mewujudkan cita-cita," ujarnya.

Perubahan paradigma ini juga dirasakan para guru. Maimunah, salah seorang guru MTsN 2 Medan, mengakui ruang kelas kini menjadi lebih hangat, inklusif, dan menyenangkan. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi sahabat, mentor, dan pembimbing bagi siswa.

“Kami dituntut memahami kebutuhan psikologis siswa secara lebih personal. Ketika hubungan emosional antara guru dan siswa semakin erat, proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan efektif,” tuturnya.

Secara historis, Kurikulum Berbasis Cinta merupakan paradigma pendidikan transformatif yang diluncurkan Kementerian Agama Republik Indonesia pada 24 Juli 2025 di Makassar.

Kurikulum ini hadir sebagai respons terhadap model pendidikan yang selama ini dinilai terlalu berfokus pada capaian akademik dan aspek kognitif semata.

Melalui Kementerian Agama, implementasi KBC dilakukan melalui penguatan materi ajar, moderasi beragama yang inklusif, serta metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman langsung.

Tujuannya adalah menjadikan madrasah sebagai ruang pembentukan karakter yang berlandaskan nilai Rahmatan lil Alamin.

Kepala MTsN 2 Medan, Pesta Berampu, menegaskan nilai-nilai cinta dalam KBC tidak boleh berhenti di lingkungan sekolah saja.

"Kurikulum ini dirancang untuk melahirkan budaya gotong royong dan kepedulian sosial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Pesta, dampak positif KBC telah terlihat dalam kehidupan madrasah.

"Kami menyaksikan suasana madrasah menjadi lebih harmonis. Hubungan antara siswa dan guru semakin erat. Bahkan dampaknya meluas hingga ke masyarakat sekitar. KBC berhasil membangun jembatan harmonisasi antara siswa dan lingkungan sosialnya," katanya.

Ia berharap Kurikulum Berbasis Cinta dapat terus menjaga kematangan emosional dan spiritual para siswa di mana pun mereka berada.

Sore pun tiba di MTsN 2 Medan. Petikan gitar yang mengalun pelan mengiringi aktivitas siswa yang mulai berakhir.

Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, madrasah ini terus melangkah untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN