Friday, June 19, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Sesar Kendeng Berpotensi Picu Gempa 7 Magintudo, Warga Diminta Tingkatkan Mitigasi

Mistar.idJumat, 19 Juni 2026 16.50
journalist-avatar-top
sesar_kendeng_berpotensi_picu_gempa_7_magintudo_warga_diminta_tingkatkan_mitigasi

Ilustrasi sesar aktif. (foto: getty images/mistar)

news_banner

Malang, MISTAR.ID

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi informasi yang viral di media sosial mengenai potensi gempa besar dari Sesar Kendeng. BMKG membenarkan sesar tersebut memiliki potensi memicu gempa hingga magnitudo 7, namun masyarakat diminta tidak panik dan lebih fokus pada kesiapsiagaan bencana.

Perbincangan mengenai Sesar Kendeng ramai di media sosial Threads setelah muncul unggahan yang menyebut wilayah Bojonegoro berpotensi mengalami gempa besar serupa dengan yang terjadi di Palu.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, mengatakan dalam kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng digabung dengan Sesar Baribis dan Sesar Semarang dalam satu sistem yang disebut Java Back-arc Thrust.

Menurutnya, skenario terburuk yang dihitung dalam kajian tersebut menunjukkan potensi gempa pada setiap segmen sesar aktif berkisar antara magnitudo 6 hingga 7.

Meski demikian, Ricko menegaskan potensi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menimbulkan kepanikan. Ia mengajak masyarakat meningkatkan pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.

Ia juga mengingatkan hingga kini gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti, baik waktu, lokasi, maupun kekuatannya.

Ricko menjelaskan, Zona Sesar Kendeng membentang sekitar 300 kilometer di bagian utara Pulau Jawa, mulai dari wilayah selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Jalur sesar ini terbagi dalam enam segmen utama, yakni Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang, Surabaya, dan Waru.

Secara administratif, lintasannya melewati sejumlah daerah seperti Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya.

Menurut Ricko, Sesar Kendeng termasuk sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun, sehingga memiliki periode ulang gempa yang relatif panjang. Karena itu, sebagian besar gempa besar yang terkait dengan sesar ini tercatat dalam catatan sejarah.

Beberapa peristiwa gempa merusak yang diduga berkaitan dengan Sesar Kendeng antara lain terjadi di Mojokerto dan Ploso, Jombang pada 1836 dan 1837 dengan estimasi kekuatan setara magnitudo 6 hingga 7. Gempa merusak juga tercatat terjadi di Madiun pada 1862 dan 1915, serta di Surabaya pada 1867.

Dalam beberapa tahun terakhir, BMKG mendeteksi aktivitas seismik berupa gempa dangkal berkekuatan kecil hingga menengah, umumnya berkisar magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar tersebut.

Sementara itu, Pakar Geologi ITS, Amien Widodo, menilai kekhawatiran gempa Palu dapat memicu gempa besar di Jawa tidak memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, lokasi gempa di Palu sangat jauh dari Pulau Jawa dan berada pada sistem sesar yang berbeda.

Ia menjelaskan gempa Palu terjadi di kawasan Sesar Palu-Koro yang pergerakannya mengarah ke barat laut, sehingga menjauh dari Jawa dan tidak berada dalam satu jalur langsung dengan Sesar Kendeng.

Amien menambahkan, jika berbicara mengenai aktivitas sesar di Jawa, faktor yang lebih berpengaruh kemungkinan berasal dari zona megathrust di selatan Pulau Jawa yang terus memberikan tekanan tektonik ke daratan.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN