Pengamat UINSU: Iduladha 2026 Jadi Penggerak Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial

Pengamat Ekonomi UINSU, Sunarji Harahap. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah pada tahun 2026 dinilai tidak hanya menjadi ritual ibadah spiritual semata, tetapi juga instrumen strategis dalam membangun ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Sektor peternakan dan perdagangan nasional diproyeksikan mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan selama periode perayaan Iduladha.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Sunarji Harahap, mengatakan ibadah penyembelihan hewan kurban yang berlangsung pada 10 hingga 13 Dzulhijjah memiliki dampak ganda (multiplier effect), baik secara spiritual maupun sosial-ekonomi.
“Ditinjau dari sudut pandang ekonomi Islam, kurban menjadi salah satu sarana distribusi yang di dalamnya terdapat unsur keadilan dan pemerataan,” kata Sunarji, Rabu (27/5/2026).
Menurut Sunarji, pembagian daging kurban kepada fakir miskin, yatim piatu, dan masyarakat yang membutuhkan secara nyata membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.
Hal tersebut dinilai mencerminkan prinsip keadilan dalam distribusi sumber daya ekonomi secara konkret.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kurban memiliki kekuatan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui beberapa aspek penting.
Pertama, mendorong distribusi kekayaan yang lebih adil. Kedua, menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan individu maupun komunitas dalam membeli hewan kurban dari pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) serta peternak lokal.
Ketiga, memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara luas karena tingginya permintaan hewan kurban menciptakan peluang kerja sementara di sektor transportasi, perdagangan, dan jasa terkait.
“Momentum ibadah kurban harus menjadi ikhtiar dalam meningkatkan aksi filantropi dan ekonomi syariah. Sebagaimana zakat, infak, sedekah, dan wakaf, kurban juga memiliki kekuatan mendongkrak ekonomi. Tentu hal ini akan tercapai apabila kurban dikelola dengan baik,” ucap Sunarji.
Berdasarkan data proyeksi nasional, ketersediaan hewan kurban pada Iduladha 2026 mencapai 3.246.790 ekor yang terdiri atas sapi, kerbau, kambing, dan domba.
Jumlah tersebut mengalami surplus sebanyak 891.320 ekor dibandingkan proyeksi kebutuhan masyarakat yang berada di angka 2.355.470 ekor.
Sunarji menilai tingginya permintaan hewan kurban memberikan dampak ekonomi positif yang langsung dirasakan peternak di berbagai daerah.
Namun demikian, ia memberikan catatan terkait tata kelola kurban di Indonesia agar distribusinya dapat lebih merata hingga ke daerah pelosok.
“Sayangnya, sampai sekarang belum ada lembaga nasional yang khusus menangani kurban. Diperlukan koordinasi antarlembaga dalam pelaksanaan kurban,” ujarnya.
Di era digital saat ini, Sunarji juga menyoroti semakin mudahnya masyarakat berpartisipasi dalam ibadah kurban melalui lembaga sosial terpercaya secara daring.
Menurutnya, kemudahan transaksi tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi syariah sekaligus memperkuat semangat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
























