Pengamat Politik: Golkar Sumut Butuh Pemimpin yang Melampaui Prestasi Pendahulu

Pengamat politik Sumatra Utara (Sumut), Shohibul Anshor Siregar. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pengamat politik Sumatra Utara (Sumut), Shohibul Anshor Siregar, menilai Partai Golkar Sumut tengah berada pada fase krusial yang menuntut kepemimpinan baru dengan kapasitas lebih visioner dan transformatif.
Menurutnya, posisi Golkar tidak berada dalam oposisi ekstrem, melainkan mitra strategis pemerintah. Peran ini mencakup tiga fungsi utama, yakni pengaruh dalam politik anggaran, fungsi pengawasan, serta menjaga stabilitas politik sebagai prasyarat pembangunan.
“Konsep membersamai kekuasaan tidak boleh berhenti sebagai jargon. Jika terjadi pembiaran terhadap ketimpangan dan ketidakadilan, Golkar tidak etis terus mencuci tangan,” katanya pada Mistar, Kamis (22/1/2026).
Ia turut memetakan sejumlah tantangan strategis, baik nasional maupun daerah yang harus dijawab Golkar secara serius. Pasalnya, pada tingkat nasional persoalan pemerataan pembangunan, ketimpangan multidimensi, disrupsi ekonomi digital, serta fragmentasi sosial dinilai berpotensi menghambat agenda Indonesia Emas 2045.
“Bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi jika tidak dikelola dengan kebijakan yang tepat. Sementara di tingkat daerah, berdasarkan data pada Mei 2025, Sumut menghadapi tantangan struktural yang tak ringan,” ujarnya.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumut yang berada di angka 4,67 persen (year on year), masih tertinggal dibanding provinsi tetangga seperti Riau. Selain itu, ketergantungan tinggi pada ekspor komoditas mentah seperti CPO dan karet membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi global.
Masalah lain yang disorotinya adalah pembangunan yang masih Medan-sentris, minimnya industri pengolahan bernilai tambah, serta tingginya angka pengangguran terdidik yang mencapai 15,3 persen akibat ketidaksinkronan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
“Golkar harus merasa berdosa besar jika membiarkan kondisi ini dianggap normal. Ini bertentangan dengan jati diri partai,” ucap akademisi FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara itu.
Menghormati Warisan, Melampaui Prestasi
Shohibul mengapresiasi kepemimpinan Golkar Sumut sebelumnya karena berhasil memperkuat soliditas internal, membangun jaringan hingga akar rumput, serta mencetak capaian elektoral penting pada Pemilu 2024.
Ia menilai, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kombinasi figur kepemimpinan, jejaring politik yang kuat, serta pengelolaan sumber daya partai yang solid. Sikap legowo pimpinan sebelumnya yang memilih tidak maju dalam Pilgub Sumut 2024, juga dinilai sebagai bentuk pengorbanan politik demi stabilitas partai.
“Sikap ini mengingatkan pada dinamika nasional, seperti yang dialami Airlangga Hartarto. Dedikasi semacam ini harus menjadi teladan,” ujarnya.
Tantangan Golkar Sumut ke depan dinilai jauh lebih berat. Legislator Golkar Sumut harus hadir sebagai pembela rakyat di medan kebijakan, terutama dalam mengawal anggaran pro-rakyat kecil, penguatan UMKM, pembangunan desa dan daerah tertinggal, penyelesaian konflik agraria, serta percepatan digitalisasi layanan publik.
“Ketimpangan adalah hambatan pembangunan sejati. Pentingnya keberpihakan Golkar terhadap isu strategis nasional, seperti penegakan makroekonomi konstitusional, kualitas pendidikan, pendanaan partai yang bersih dari oligarki, hingga keadilan ekologis. Kasus-kasus bencana lingkungan yang belakangan terjadi harus menjadi peringatan keras bagi partai,” tuturnya.
Berdasarkan analisis tersebut, ia menegaskan bahwa calon Ketua DPD Golkar Sumut di masa mendatang harus melampaui prestasi pendahulunya. Setidaknya ada lima kriteria utama yang harus dimiliki calon Ketua Golkar Sumut.
“Pertama, Visi transformasional yang berani, terutama dalam hilirisasi ekonomi dan pemerataan pembangunan. Kedua, kemampuan analisis kebijakan yang mendalam, berbasis data dan solusi nyata. Ketiga, Jejaring luas dan inklusif, melibatkan dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil,” ucapnya.
Kriteria keempat adalah harus memiliki integritas dan keteladanan dengan kemampuan navigasi politik yang lincah. Kelima, resonansi dengan generasi muda tanpa kehilangan basis massa tradisional.
“Pemilihan Ketua DPD Golkar Sumut ke depan, harus menjadi momentum penentu arah partai. Apakah sekadar bernostalgia dengan kejayaan masa lalu, atau berani melompat menuju kepemimpinan visioner yang mampu membawa Sumut keluar dari jebakan ketimpangan dan ketergantungan,” ujarnya.
Ia berharap dengan pernyataan yang disampaikannya, Partai Golkar Sumut bisa menjadi pemenang Pemilu, sekaligus pelopor perubahan pada kontestasi politik di Sumut. (Ari)






















