Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Masjid Lama Gang Bengkok: Simbol Harmoni di Medan yang Tak Lekang oleh Zaman

Mistar.idJumat, 20 Februari 2026 19.40
journalist-avatar-top
AA
masjid_lama_gang_bengkok_simbol_harmoni_di_medan_yang_tak_lekang_oleh_zaman

Masjid Lama Gang Bengkok. (foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Di tengah kepungan gedung-gedung modern dan hiruk-pikuk aktivitas di Kesawan, berdiri sebuah bangunan yang tenang dan bersahaja. Masjid Lama Gang Bengkok namanya. Bagi warga Kota Medan, masjid yang terletak di Jalan Masjid, Kelurahan Kesawan ini bukan sekadar tempat bersujud, melainkan jejak sejarah perjalanan multikultural yang pernah dan masih hidup di Tanah Deli.

Masjid yang kini menjadi ikon wisata religi ini menyimpan kisah tentang kolaborasi lintas etnis dan agama yang luar biasa di masa lalu. Siapa sangka, bangunan megah beraksen hijau-kuning ini awalnya hanyalah sebuah musala kecil di pinggir gang sempit yang berbelok (bengkok).

Sejarah mencatat, pembangunan masjid ini dibiayai sepenuhnya oleh Tjong A Fie, seorang tokoh pengusaha dan bankir Tionghoa legendaris di Medan. Kepedulian sang saudagar ini bersambut gayung dengan peran dua ulama besar, Syeikh Muhammad Yacob dan Mufti Syeikh Hasan Maksum, yang mendukung penuh berdirinya masjid tertua di Medan tersebut.

Arsitektur Masjid Lama Gang Bengkok adalah bukti nyata dari kerukunan tersebut. Jika mendongak ke arah atap, lengkungannya yang melebar menyerupai bentuk kelenteng Tionghoa.

Namun, dominasi warna kuning dan hijau segera mengingatkan kita pada kejayaan Melayu dan identitas Islam. Tak hanya itu, sentuhan gaya Persia juga turut memperkaya detail bangunan ini.

"Dari dulu tidak ada yang diubah, hanya pintu saja yang dulu kayu kini diperbarui. Atap dan bagian inti lainnya tetap asli, kami hanya melakukan perluasan bangunan," kata pengurus masjid, Silmi Tanjung, Jumat (20/2/2026).

Di dalam masjid, terdapat sebuah warisan dari tahun 1700-an, yakni sumur pertama di Medan dengan diameter 2x2 meter dan kedalaman mencapai 20 meter. Keberadaan sumur ini seolah menjadi saksi bisu betapa tua dan pentingnya titik ini bagi kehidupan masyarakat Medan sejak berabad-abad silam.

Kini, di Ramadan 2026, Masjid Lama Gang Bengkok semakin menunjukkan perannya sebagai "oase" bagi masyarakat kota, khususnya para pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi.

Seorang masyarakat, Amir, mengatakan masjid ini menjadi salah satu tempat singgah bagi para pekerja lapangan, seperti ojek online (ojol) di siang hari. Pada Bulan Ramadan, masjid ini juga tak luput menjadi tempat singgah bagi mereka yang bekerja di luar.

"Sehari-hari di samping beribadah di sini, biasanya banyak ojol yang datang meneduh dan istirahat saat lelah mengantarkan penumpang maupun pesanan. Pada bulan Ramadan, jauh lebih ramai karena tempat-tempat makan tidak bisa didatangi karena sedang berpuasa. Ada juga buka puasa bersama," ucapnya.

Fasilitas buka puasa gratis yang disediakan pengurus masjid menjadi berkah tersendiri bagi para pekerja lapangan. Suasana hangat saat berbuka bersama jemaah lain menciptakan rasa kekeluargaan yang kental di tengah jantung kota.

Tak hanya aktivitas fisik, sisi intelektual dan spiritual jemaah juga diasah melalui pengajian rutin selepas Zuhur. Dengan ustaz yang berganti setiap hari, para jemaah mendapatkan variasi perspektif keilmuan yang memperkaya batin selama berpuasa.

Bagi pencinta sejarah, sisi belakang masjid juga menyimpan nilai historis tinggi dengan adanya gedung Maktab Islamiyah Tapanuli. Gedung ini merupakan tempat lahirnya organisasi Islam Al-Washliyah yang kini telah dialihfungsikan menjadi museum.

Masjid Lama Gang Bengkok adalah bukti perbedaan baik itu arsitektur Tionghoa-Melayu maupun latar belakang sosial jemaahnya bukanlah sekat. Di sini, sejarah, ibadah, dan kemanusiaan melebur menjadi satu dalam setiap sudut bangunannya yang tetap tegak menantang zaman.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN