Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Akademisi UINSU Minta Edukasi dan Pengawasan Diperkuat Cegah Asmara Subuh Negatif

Mistar.idJumat, 20 Februari 2026 19.51
journalist-avatar-top
DI
akademisi_uinsu_minta_edukasi_dan_pengawasan_diperkuat_cegah_asmara_subuh_negatif

Dr Winda Kustiawan MA saat menjadi narasumber podcast Mistar TV. (foto: deddy/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Dai sekaligus akademisi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Dr Winda Kustiawan MA, menyebut asmara subuh hanya ada di Indonesia dan tidak pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Asmara subuh mulai menjamur di Indonesia sejak masuknya Ramadan 1447 Hijriah, Kamis (19/2/2026).

"Sebenarnya istilah (asmara subuh) ini sudah lama, mulai populernya itu di tahun 80-an. Kalau dulu cuma kumpul-kumpul dan silaturahmi. Tradisi kita di Indonesia inikan kumpul-kumpul, bersilaturahmi, awalnya bagus. Dengan seiring perubahan zaman, asmara subuh ini menjadi negatif," ujarnya saat menjadi narasumber podcast di Studio Mistar TV, Jumat (20/2/2026).

Ia berujar dalam Islam tidak dianjurkan berlama-lama di masjid apalagi setelah subuh. Umat Islam, kata dia, diperintahkan beraktivitas di luar masjid melakukan hal yang produktif dan beramar makruf nahi mungkar, bukan justru sebaliknya.

"Kalau kita kan tidak boleh tidur setelah subuh. Nabi tidak pernah mengajarkan kita untuk berlama-lama di masjid apalagi setelah subuh. Kita justru diperintahkan untuk bertebaran (aktivitas positif) di muka bumi. Subuh itu jangan berlama-lama di masjid. Boleh baca Qur'an, berzikir, atau mengaji di masjid selepas subuh, tapi tidak terus-terusan di masjid," ujar Winda.

Winda yang juga merupakan pendakwah kondang ini, mengatakan kegiatan asmara subuh di Indonesia terutama di Kota Medan dan sekitarnya menjadi negatif setelah beberapa tahun belakangan.

"Kalau sepengetahuan saya, mereka yang melakukan asmara subuh sekarang ini cenderung ikut-ikutan. Seiring perkembangan zaman, kumpul-kumpulnya sekarang setelah subuh itu jadi pertemuan antara laki-laki dengan perempuan. Mereka menjalin asmara. Itulah awal mula istilah asmara subuh ini menjadi negatif," katanya.

Winda mengatakan, salah satu faktor pemuda di Indonesia melakukan asmara subuh ini karena minimnya pendidikan agama yang ditanamkan sejak kecil, ketidaksejahteraan secara ekonomi, serta tidak aktifnya pengawasan orang tua.

"Harus tetap ada kontrol orang tua. Guru terbaik itu adalah orang tua sendiri. Keteladanan orang tua itulah yang harus diberikan kepada anak. Mengingatkan anak ketika anak keluar rumah, apalagi sewaktu subuh. Kalau anak pergi ke masjid, pastikan selesai salat atau kegiatan di masjid harus pulang ke rumah. Pendekatan secara religius saat ini sudah tak sebagus dulu. Makanya asmara subuh saat ini disalahgunakan. Jadi, mereka tidak paham dengan makna Ramadan," ucapnya.

Ia berpesan kepada seluruh pemuda agar menghindari kegiatan-kegiatan negatif terutama saat subuh di bulan yang penuh berkah ini. Winda mengajak para pemuda untuk tidak menyusahkan orang tuanya.

"Sebenarnya bukan sebatas orang tua saja, orang tua sudah cukup lelah, letih, berpikir bagaimana memikirkan mencari nafkah. Kadang-kadang orang tua inikan berpesan ke anak-anaknya jangan lagi dibebankan masalah kelakuannya. Cukup senangkan orang tuamu dengan tidak melakukan asmara subuh dalam konteks negatif seperti tawuran, geng motor, dsb," tuturnya.

Ia juga mengajak pemangku kepentingan dan aparat kepolisian untuk bersama-sama merangkul serta mengedukasi pemuda yang kerap melakukan asmara subuh.

"Kami para dai ini mengajak kalau di kota ini wali kota, kalau di provinsi, gubernur. Mari sama-sama edukasi anak-anak kita terutama di titik yang sering asmara subuh. Dikumpulkan dai-dai ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) buat fatwa. Kita ini kalau sudah ada yang mengawasi baru takut," ucap Winda.

Menurutnya, para pemuda atau remaja di Indonesia dapat terbuka hatinya apabila dinasihati dengan tutur kata yang santun dan tidak menghakimi. Winda yakin dengan kerja sama antara pemangku kepentingan dan aparat kepolisian, asmara subuh yang tidak positif dapat diminimalisasi.

"Kita enggak bisa larang anak-anak kita keluar rumah, di mana titik-titik yang ramai asmara subuh, di situlah dibuat edukasi. Pak polisi di Republik Indonesia ini sudah sangat bagus, polisi sudah bekerja cukup baik menurut saya. Mari bantu melakukan pendekatan dengan lembut, saran saya begitu. Kitakan orang Indonesia suka kelembutan," tutur Winda.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN