FJPI: Film Pesta Babi Jadi Ruang Refleksi Konflik Agraria yang Juga Terjadi di Sumut

Penayangan film Pesta Babi oleh FJPI di Medan. (foto: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumatera Utara (Sumut) menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi bersama seniman, aktivis perempuan, komunitas lingkungan, dan mahasiswa di Medan. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas persoalan kerusakan hutan dan konflik agraria yang juga terjadi di Sumatera Utara (Sumut).
Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis, mengatakan film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale, bekerja sama dengan Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia itu penting ditonton bersama karena menggambarkan persoalan perusakan hutan yang tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga relevan dengan kondisi di daerah lain, termasuk Sumut.
“Di Sumatera Utara, kita tahu banyak konflik yang terjadi antara masyarakat adat, perusahaan dan pemerintah terkait kawasan hutan,” ujarnya, Jumat (15/5/2025).
Ia juga menyinggung berbagai aksi demonstrasi yang beberapa kali muncul akibat persoalan agraria dan lingkungan di daerah tersebut.
Jurnalis perempuan yang akrab disapa Awi itu juga mengungkapkan, sejumlah pengurus FJPI tengah menggarap film dokumenter investigasi mengenai upaya masyarakat menyelamatkan hutan di Simalungun.
Film tersebut saat ini masih dalam proses penyuntingan dan nantinya juga akan diputar melalui agenda nobar.
Ia menekankan jurnalis, seniman, dan masyarakat sipil perlu menjaga daya pikir kritis terhadap berbagai kebijakan lingkungan. Apalagi, pemerintah sedang menjalankan proyek strategis nasional (PSN) di sejumlah wilayah di Indonesia.
“Kita harus punya daya kritis yang sama agar dapat melindungi negara kita. Kita juga harus tahu seperti apa kondisi di daerah kita masing-masing,” ucapnya.
Film dokumenter Pesta Babi mengangkat perjuangan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di Papua dalam mempertahankan wilayah mereka dari ancaman perusakan hutan yang dikaitkan dengan ketahanan pangan dan transisi energi.
Film ini juga kerap menjadi perbincangan hangat dan membawa kontroversial karena adanya upaya pembubaran oleh aparat saat masyarakat hendak melakukan nobar di sejumlah tempat. “Kami berharap film ini dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap isu kelestarian lingkungan,” katanya.

















