61,5 Persen Wilayah Sumut Diprediksi Alami Musim Kemarau Lebih Panjang pada 2026

Ilustrasi cuaca kemarau. (Foto: Deddy/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Sebanyak 61,5 persen wilayah di Sumatera Utara (Sumut) diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya pada tahun 2026. Hal ini diungkapkan Kepala Stasiun Klimatologi Sumut, Wahyudin.
“Sebesar 61,5 persen wilayah atau 16 zona musim (ZOM) mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Mistar, Minggu (15/3/2026).
Dari total tersebut, sambung Wahyudin, sekitar 7,7 persen wilayah (dua ZOM) diprediksi memiliki durasi musim kemarau cukup panjang, yakni mencapai 13–15 dasarian atau sekitar 4–5 bulan.
“Secara umum, sebesar 42,3 persen wilayah diprediksi memiliki durasi musim kemarau 7–9 dasarian atau sekitar 2–3 bulan. Selain itu, sebesar 61,5 persen wilayah (16 ZOM) diperkirakan memasuki awal musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026,” jelasnya.
Wahyudin melanjutkan, sekitar 11,5 persen wilayah telah memasuki musim kemarau sejak awal tahun 2026. Secara umum, kata dia, sebesar 88,5 persen wilayah atau 23 ZOM diprediksi memiliki sifat musim kemarau yang sama dengan kondisi normal.
“Sebesar 30,8 persen wilayah (delapan ZOM) awal musim kemaraunya diperkirakan sama dengan normal, dan 30,8 persen wilayah lainnya diprediksi lebih maju dari biasanya. Sementara itu, sebesar 11,5 persen wilayah (tiga ZOM) diperkirakan memiliki sifat musim kemarau di bawah normal atau lebih kering,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekitar 80,7 persen wilayah di Sumut diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada Juni hingga Juli 2026. Sedangkan sebesar 7,7 persen wilayah (dua ZOM) diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Maret.
“Sebesar 57,7 persen wilayah (15 ZOM) puncak musim kemaraunya diperkirakan sama dengan kondisi normal, sementara 19,2 persen wilayah (lima ZOM) diprediksi lebih maju dari biasanya,” tutur Wahyudin.























