Friday, June 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Stop Gagal Menyusui Eksklusif! Dosen Poltekkes Kemenkes Medan Prodi D-III Kebidanan Pematangsiantar Edukasi Ibu Hamil Sejak Masa Kehamilan

Mistar.idJumat, 19 Juni 2026 19.27
journalist-avatar-top
stop_gagal_menyusui_eksklusif_dosen_poltekkes_kemenkes_medan_prodi_diii_kebidanan_pematangsiantar_edukasi_ibu_hamil_sejak_masa_kehamilan

Dosen Poltekkes Kemenkes Medan Prodi D.III Kebidanan Pematangsiantar foto bersama dengan tenaga kesehatan Puskesmas Bah Kapul dan para ibu-ibu hami (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Dosen Poltekkes Kemenkes Medan Prodi D.III Kebidanan Pematangsiantar menemui para ibu hamil di Puskesmas Bah Kapul. Mereka membina para ibu hami dalam meningkatkan capaian ASI Eksklusif

Pentingnya Enam Bulan Pertama bagi Sang Buah Hati

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dalam enam bulan pertama kehidupan merupakan fondasi yang sangat krusial bagi tumbuh kembang seorang anak. Pada periode emas ini, ASI bukan sekadar cairan biasa, melainkan makanan bayi paling sempurna yang kaya akan nutrisi dan zat kekebalan tubuh. ASI eksklusif dirancang secara alami untuk memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi bayi agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sekaligus terlindungi dari berbagai serangan penyakit.

Bagi sebuah keluarga, menyusui juga menjadi salah satu investasi terbaik. Selain menghemat pengeluaran untuk pembelian susu formula yang harganya kian melambung, investasi kesehatan jangka panjang yang tertanam pada anak yang mendapatkan ASI eksklusif jauh lebih berharga. Anak-anak yang mendapatkan haknya untuk memperoleh ASI eksklusif cenderung memiliki kecerdasan yang lebih baik dan daya tahan tubuh yang kuat, yang menjadi modal utama mereka untuk masa depan.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan menyusui tidak selalu mudah akibat berbagai tantangan, mitos, dan kurangnya pemahaman. Berangkat dari kepedulian tersebut, tim dosen Poltekkes Kemenkes Medan Program Studi D.III Kebidanan Pematangsiantar turun langsung ke masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada sosialisasi hak ibu menyusui dan penguatan dukungan keluarga.

Potret Mengkhawatirkan: Angka Capaian ASI Eksklusif yang Masih Rendah

Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam dalam mengawal isu krusial ini. Melalui berbagai program, seperti "Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui", pemerintah berupaya keras meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Langkah-langkah ini meliputi edukasi intensif, pelatihan bagi tenaga kesehatan, hingga penyediaan kelompok pendukung menyusui di tingkat akar rumput. Bahkan, beberapa wilayah kerja puskesmas di Indonesia telah berinovasi dengan menerapkan kelas persiapan menyusui yang berbasis dukungan keluarga.

Aksi Nyata Dosen Poltekkes Kemenkes Medan

Sebagai bentuk pengejawantahan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen dari Poltekkes Kemenkes Medan Program Studi D.III Kebidanan Pematangsiantar menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang inovatif dan solutif. Tim pengabdi ini beranggotakan tiga orang pakar di bidang kebidanan, yaitu Inke Malahayati, SST, M.Keb, Tengku Sri Wahyuni, SSiT, M.Keb, dan Lenny Nainggolan, SSiT, M.Keb.

Tidak bergerak sendirian, demi efektivitas dan keberlanjutan, tim dosen ini juga melibatkan Puskesmas Bah Kapul dalam seluruh rangkaian kegiatan. Sasaran strategis kegiatan ini difokuskan kepada para ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Bah Kapul. Memilih ibu hamil dinilai sebagai langkah preventif yang paling tepat, sebab mempersiapkan keberhasilan masa menyusui (laktasi) harus dimulai sejak janin masih berada di dalam kandungan, bukan setelah bayi lahir.

Target capaian kegiatan ini meliputi:

* Meningkatkan pengetahuan: membuka wawasan ibu hamil mengenai hak menyusui dan pentingnya ASI eksklusif hingga usia bayi enam bulan.

* Kesiapan fisik melalui demonstrasi: membimbing ibu hamil melakukan perawatan payudara (breast care) secara mandiri sebagai persiapan laktasi demi keberhasilan menyusui.

* Membangun komitmen diri: menumbuhkan kesadaran internal ibu untuk memberikan ASI eksklusif.

* Menggalang dukungan keluarga: mengedukasi pendamping agar menciptakan lingkungan rumah tangga yang mendukung pemberian ASI eksklusif hingga anak berusia enam bulan.

Metode Edukasi Interaktif: Dari Pretest, Simulasi, hingga Praktik Mandiri

Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dikemas secara menarik, interaktif, dan tidak membosankan melalui penyuluhan, demonstrasi perawatan payudara, serta sesi tanya jawab.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan pretest untuk mengukur sejauh mana tingkat pengetahuan dasar peserta sebelum mendapatkan pemaparan materi mengenai hak menyusui eksklusif dan pentingnya dukungan keluarga. Langkah ini penting agar tim pengabdi mengetahui aspek-aspek yang masih perlu diperkuat dalam pemahaman peserta.

Setelah pretest, sesi inti edukasi dan penyuluhan pun dimulai. Materi yang disampaikan berfokus pada hak ibu menyusui dan dukungan keluarga untuk meningkatkan capaian ASI eksklusif.

Guna memastikan pemahaman tidak berhenti pada tataran teori, tim dosen memberikan simulasi mengenai teknik menyusui yang benar. Posisi dan perlekatan mulut bayi pada payudara ibu yang kurang tepat sering kali menjadi penyebab utama puting lecet dan produksi ASI yang tidak optimal. Oleh karena itu, simulasi ini disambut sangat antusias oleh para peserta.

Tak hanya itu, demonstrasi perawatan payudara (breast care) untuk merangsang produksi ASI juga dipraktikkan secara langsung. Para ibu hamil diajak mencoba gerakannya sendiri agar siap menyongsong masa laktasi.

Seluruh rangkaian edukasi ini ditutup dengan pelaksanaan posttest yang bertujuan untuk melihat efektivitas sosialisasi yang telah diberikan, sekaligus mengukur peningkatan pengetahuan para ibu hamil setelah mendapatkan intervensi edukasi dari tim dosen.

Harapan Baru bagi Kesehatan Ibu dan Anak di Pematangsiantar

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, secercah harapan baru muncul bagi peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak di wilayah kerja Puskesmas Bah Kapul. Edukasi yang menyasar langsung ibu hamil serta pelibatan dukungan keluarga diharapkan mampu memutus rantai berbagai mitos keliru seputar menyusui.

Ketika ibu hamil memahami haknya, memiliki kesiapan fisik, serta didukung oleh suami dan keluarga dalam lingkungan yang kondusif dan bebas stres, kendala psikologis seperti persepsi ASI kurang dapat diminimalkan. Langkah civitas academica Poltekkes Kemenkes Medan ini diharapkan memicu sinergi berkelanjutan antara institusi pendidikan, puskesmas, posyandu, dan kader masyarakat demi mewujudkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan tangguh di Kota Pematangsiantar.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN