Monday, July 20, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kisruh MBG Tak Perlu Ahli Gizi, IAKMI Sumut Jelaskan Tenaga yang Tepat

Mistar.idKamis, 20 November 2025 pukul 14.28 WIB
kisruh_mbg_tak_perlu_ahli_gizi_iakmi_sumut_jelaskan_tenaga_yang_tepat

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sumut, Destanul Aulia S.K.M (foto:berry/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sumatera Utara (Sumut), Destanul Aulia S.K.M, turut menanggapi kisruh terkait pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengenai ahli gizi tidak diperlukan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Destanul, tenaga yang paling tepat untuk ditempatkan di Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) dalam program MBG harus dilihat secara komprehensif, bukan hanya berdasarkan satu aspek keahlian.

“MBG bukan sekadar pemberian makanan, tetapi merupakan intervensi kesehatan masyarakat berskala nasional, yang mencakup aspek gizi, sanitasi, keamanan pangan, manajemen program, hingga edukasi perilaku sehat kepada peserta didik dan orang tua,” ujarnya kepada Mistar, Kamis (20/11/2025).

Lebih lanjut, Destanul menyebut bahwa dalam konteks tersebut, tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM/M.Kes) justru menjadi profesi yang paling tepat dan strategis untuk memperkuat SPPG dalam program milik Presiden Prabowo Subianto.

“Pendidikan kesehatan masyarakat memang dirancang untuk menguasai spektrum permasalahan yang luas. Mulai dari kesehatan lingkungan, para lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat belajar tentang air bersih, sanitasi, higiene pangan, dan pengendalian risiko kontaminasi di dapur umum,” tuturnya.

Destanul menegaskan bahwa dari sisi ilmu gizi, lulusan SKM/M.Kes juga mempelajari pemilihan bahan makanan, kebutuhan gizi sasaran, penyusunan menu makanan, serta monitoring status gizi dalam makanan maupun lainnya.

Menurutnya, dalam aspek administrasi dan kebijakan kesehatan, lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat dibekali kemampuan manajemen program, koordinasi lintas sektor, penyusunan standar operasional prosedur, hingga tata kelola layanan.

Selain itu, kemampuan ekonomi kesehatan memungkinkan mereka melakukan analisis efisiensi, perhitungan biaya, hingga perencanaan anggaran. Kompetensi promosi kesehatan juga membantu mengedukasi semua kalangan.

“Kompetensi promosi kesehatan membantu mereka melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada siswa, guru, dan masyarakat. Artinya, satu lulusan SKM memiliki kerangka ilmu yang memang dibutuhkan untuk memastikan program MBG berjalan dengan aman, efektif, dan berkelanjutan,” katanya. (hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN