BMKG Temukan Pergeseran Tanah Pasca Gempa M7,7 di Flores

Gempa M7,7 di Flores. (Foto: afu.id)
Flores, MISTAR.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menemukan fenomena pergeseran tanah di sejumlah wilayah setelah gempa berkekuatan M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan respons kerak bumi dan material permukaan terhadap guncangan gempa.
BMKG menjelaskan, gempa bumi tidak hanya menimbulkan guncangan di permukaan tanah. Pergerakan pada patahan juga dapat mengubah bentuk serta ketinggian permukaan tanah.
Perubahan tersebut membuat permukaan tanah di wilayah tertentu dapat bergeser, baik secara vertikal maupun horizontal.
"Gempa bumi tidak hanya mengguncang permukaan. Pergerakan pada patahan dapat menyebabkan perubahan bentuk dan elevasi permukaan tanah, termasuk pergeseran tanah pada wilayah tertentu," tulis BMKG melalui akun Instagramnya, Kamis (3/9/2026).
BMKG turut menyertakan ilustrasi untuk menunjukkan proses pergeseran tanah akibat gempa. Ilustrasi tersebut membandingkan kondisi permukaan sebelum dan setelah gempa terjadi.
Sebelum gempa, permukaan tanah digambarkan dalam kondisi relatif stabil. Jalan terlihat rata, sementara tanah yang menopangnya berada dalam kondisi seragam.
Setelah gempa terjadi, lapisan tanah terlihat dapat bergerak dan mengalami perubahan bentuk.
Sebagian tanah dapat bergerak turun atau naik secara vertikal, sementara bagian lainnya dapat mengalami pergeseran secara horizontal. Pergerakan tanah yang tidak seragam menyebabkan deformasi perkerasan maupun retakan memanjang pada aspal.
"Pergerakan vertikal yang tidak seragam dapat menyebabkan deformasi permukaan jalan," ucapnya, dilansir dari CNN Indonesia.
Fenomena ini bisa terlihat di lapangan melalui sejumlah perubahan seperti permukaan jalan yang menjadi bergelombang atau bergeser, bangunan yang mengalami pergeseran atau kemiringan, munculnya retakan pada tanah dan jalan, serta perbedaan ketinggian antarbagian permukaan tanah.
Dalam kondisi tertentu, air atau material pasir dapat muncul ke permukaan tanah.
Lebih lanjut, BMKG mengatakan dampak guncangan gempa dapat berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis dan karakteristik tanah, kandungan air dalam tanah, kondisi topografi dan lereng, beban bangunan di atas tanah serta intensitas guncangan yang dirasakan.
BMKG turut menunjukkan hasil survei pada beberapa wilayah di Flores. Salah satunya adalah pergerakan tanah yang terjadi di Jembatan Marapokot, Kabupaten Nagekeo, NTT.
Hasil analisis ini menemukan karakteristik berupa tanah lunak yang memiliki daya dukung rendah dan rentan mengalami pergerakan vertikal (settlement) di lokasi ini. Pergerakan vertikal yang tidak seragam juga dapat menjadi pemicu deformasi dan retakan pada permukaan aspal.
Kemudian, BMKG juga melakukan survei lapangan di wilayah Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Analisa ini menemukan adanya pergeseran tanah berupa rekahan pada permukaan tanah.
"Kondisi ini menunjukkan adanya kegagalan tanah akibat guncangan gempa yang kuat, sehingga melebihi kemampuan tanah dalam menahan deformasi geser," kata BMKG. (cnn)

























