Ahli Gizi Tak Diperlukan di MBG, Pengamat Gizi: Peran Mereka Tetap Krusial

Dosen Departemen Ilmu Gizi Klinik, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU), Nenni Dwi Aprianti Lubis, SP., M.Si (foto: USU/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengenai tidak perlunya ahli gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan masyarakat.
Berdasarkan video berdurasi 2 menit 50 detik yang beredar di media sosial, Cucun mengatakan akan mengubah diksi terkait ahli gizi.
“Saya nanti akan mengajak rapat Badan Gizi Nasional (BGN) untuk merubah diksi. Tenaga yang mengawasi gizi tidak perlu disebut ahli gizi,” ujar Cucun.
Dosen Departemen Ilmu Gizi Klinik, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU), Nenni Dwi Aprianti Lubis, tidak sependapat dengan Cucun. Menurutnya, peran ahli gizi dalam program MBG sangat penting.
“Peran ahli gizi terkait pemenuhan kebutuhan energi, gizi, serta pencegahan keracunan makanan,” ujarnya kepada Mistar, Selasa (18/11/2025).
Nenni menegaskan, ahli gizi tidak hanya memastikan MBG memenuhi kecukupan energi dan nutrisi peserta didik, tetapi juga mencegah keracunan makanan.
Pengelola MBG seyogyanya memahami kebutuhan energi dan nutrisi, serta pengetahuan tentang pangan, proses pengolahan, dan pedoman makanan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).
Permasalahan utama MBG saat ini, kata Nenni, adalah potensi keracunan makanan akibat bahaya fisik, kimiawi, maupun mikrobiologi.
“Cemaran bisa berasal dari makanan itu sendiri, proses pengolahan, hingga penyimpanan yang tidak higienis, termasuk higiene dan sanitasi penjamah makanan,” ujarnya.
Namun, Nenni menambahkan bahwa jika rencana pengganti ahli gizi menggunakan lulusan SMA, mereka tetap harus dibekali pengetahuan cukup mengenai gizi dan pangan, serta masih memerlukan supervisi atau pengawasan.
PREVIOUS ARTICLE
Mengenal Berbagai Bentuk Bullying: Jangan Dianggap Sepele




















