Monday, July 20, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kesadaran Skrining Kanker di Indonesia Masih Rendah, Ini Penyebab Utamanya

Mistar.idJumat, 19 Desember 2025 pukul 05.00 WIB
kesadaran_skrining_kanker_di_indonesia_masih_rendah_ini_penyebab_utamanya

Skrining dan deteksi dini kanker payudara. (Foto: Dok. iStockPhoto)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjalani pemeriksaan deteksi dini kanker masih tergolong rendah, meski layanan kesehatan dan teknologi medis terus berkembang. Kondisi ini menjadi tantangan serius, mengingat skrining berperan penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus menjaga kualitas hidup pasien.

Sejumlah faktor menjadi penyebab rendahnya partisipasi masyarakat dalam skrining kanker, mulai dari aspek psikologis, minimnya pemahaman, hingga pengaruh informasi yang menyesatkan.

Salah satu kendala utama berasal dari rasa takut. Banyak orang enggan menjalani pemeriksaan karena khawatir hasilnya akan mengubah hidup mereka secara drastis. Ketakutan tersebut sering kali membuat masyarakat memilih untuk tidak mengetahui kondisi kesehatannya sejak awal.

Dokter Spesialis Ginekologi Onkologi Konsultan Onkologi, dr. Muhammad Yusuf, SpOG(K) Onk, menjelaskan bahwa hambatan terbesar justru muncul dari persepsi pasien itu sendiri. Menurutnya, sebagian orang membayangkan diagnosis kanker identik dengan ketidakmampuan beraktivitas normal, sehingga memilih menghindari skrining.

Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa kanker yang terdeteksi lebih awal justru memiliki tingkat keberhasilan pengobatan yang jauh lebih tinggi. Dengan diagnosis dini, peluang pasien untuk menjalani hidup produktif dan berkualitas tetap terbuka lebar.

Kurangnya pemahaman ini berdampak langsung pada pola berobat masyarakat. Tidak sedikit pasien baru datang ke fasilitas kesehatan saat kondisi kanker sudah memasuki stadium lanjut. Pada tahap ini, pilihan terapi menjadi lebih terbatas dan proses pengobatan jauh lebih kompleks, baik dari sisi medis maupun psikologis.

Selain faktor ketakutan dan minim edukasi, persoalan biaya juga kerap menjadi alasan masyarakat menunda skrining. Masih ada anggapan bahwa pemeriksaan kanker membutuhkan dana besar dan sulit dijangkau. Padahal, saat ini sejumlah layanan skrining sudah dapat diakses melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan).

Sayangnya, informasi mengenai cakupan layanan tersebut belum sepenuhnya tersampaikan secara luas, sehingga fasilitas yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal.

Hambatan lain yang tak kalah besar adalah maraknya informasi keliru terkait kanker dan pengobatannya. Hoaks yang beredar di masyarakat sering kali menimbulkan ketakutan berlebihan, terutama terkait tindakan medis seperti operasi.

Chairman Eka Tjipta Widjaja Cancer Center Eka Hospital, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B(K) Onk., M.Epid., MARS, menyoroti masih banyak pasien yang lebih mempercayai klaim tidak berdasar secara ilmiah. Akibatnya, sebagian orang memilih jalur pengobatan alternatif tanpa bukti medis yang jelas.

Kepercayaan terhadap metode non-medis, seperti klaim kesembuhan hanya dengan konsumsi makanan tertentu, membuat pasien menunda pemeriksaan ke dokter. Ketika akhirnya menyadari informasi tersebut tidak benar, kondisi kanker sering kali sudah berkembang lebih parah.

Situasi ini menunjukkan pentingnya edukasi berkelanjutan dan penyampaian informasi kesehatan yang akurat. Rendahnya angka skrining kanker bukan hanya persoalan individu, tetapi menjadi tantangan bersama yang membutuhkan peran aktif tenaga medis, pemerintah, dan media.

Dengan edukasi yang konsisten dan akses informasi yang benar, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa deteksi dini bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan langkah penting untuk menjaga harapan hidup dan kualitas kesehatan di masa depan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN