Friday, September 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Beras Pemicu Utama Inflasi di Siantar

Mistar.idJumat, 4 September 2026 pukul 11.06 WIB
beras_pemicu_utama_inflasi_di_siantar

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID – Beras menjadi pemicu utama inflasi di Kota Pematangsiantar sepanjang Agustus 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Pematangsiantar pada Agustus tercatat 0,58 persen secara bulanan (mtm), atau naik 0,31 persen dibandingkan Juli. Secara tahunan, inflasi mencapai 2,76 persen (ytd), sedangkan secara tahunan berada di level 4,10 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, mengatakan tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak (volatile food). Kondisi tersebut dipengaruhi pasokan dari petani yang sebelumnya mengalami tekanan akibat musim kemarau.

“Di Pematangsiantar, beras masih pemicu utama inflasi. Untung harga tomat, bawang merah, dan bawang putih bisa turun, jadi lumayan menahan laju. Sementara di Labuhanbatu, harga daging ayam ras, cabai rawit, dan ikan kembung yang bikin inflasi ngebut,” kata Ahmadi, Jumat (4/9/2026).

Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Labuhanbatu. Inflasi bulanan di daerah itu mencapai 1,69 persen. Kenaikan tersebut terutama didorong harga daging ayam ras, cabai rawit, dan ikan kembung.

Untuk menjaga harga pangan tetap terkendali, BI Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Pemantauan harga juga dilakukan melalui sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) serta High Level Meeting (HLM) untuk melihat perkembangan harga secara real-time.

Upaya menjaga pasokan turut dilakukan melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Sepanjang Agustus, BI berperan sebagai penghubung distribusi antara Pematangsiantar dan Simalungun serta Labuhanbatu dan Karo. PD Pasar Horas Jaya (PHJ) juga dilibatkan sebagai offtaker.

Selain itu, pengendalian harga dilakukan melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), Gerakan Pangan Murah (GPM), serta Toko Pengendali Inflasi (TOPPIS).

Ahmadi menilai kolaborasi lintas sektor tersebut penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus daya beli masyarakat.

“Selama mitigasinya cepat dan terukur, ekonomi daerah bisa terus tumbuh,” tuturnya.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN