Friday, September 25, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Influenza A Bisa Picu Pneumonia, Kenali Tanda Bahaya dan Faktor Risikonya

Mistar.idJumat, 25 September 2026 pukul 16.13 WIB
influenza_a_bisa_picu_pneumonia_kenali_tanda_bahaya_dan_faktor_risikonya

Influenza A Bisa Picu Pneumonia (Foto: Dok.Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Infeksi saluran pernapasan, termasuk Influenza A yang belakangan ramai disebut “Super Flu”, pada umumnya dapat pulih dengan bantuan sistem imun tubuh. Penanganannya juga biasanya bersifat suportif dengan fokus meredakan gejala dan menjaga kondisi tubuh.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman mengatakan pasien umumnya dapat melakukan perawatan untuk meredakan gejala seperti batuk dan demam sambil mempertahankan daya tahan tubuh.

Namun, kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi. Pasien yang mengalami sesak napas maupun memiliki penyakit penyerta, seperti asma, perlu mendapat perhatian lebih karena infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia atau radang paru-paru.

Infeksi saluran napas bisa berkembang menjadi pneumonia

Spesialis Penyakit Dalam, Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD., menjelaskan pneumonia tidak selalu muncul secara tiba-tiba.

Menurut Joyce, prosesnya dapat diawali infeksi pada saluran pernapasan bagian atas yang umumnya disebabkan virus. Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi infeksi pada saluran pernapasan bawah.

“Mungkin awalnya pintu gerbangnya tuh masuk dari infeksi saluran napas atas. Itu kan rata-rata ISPA itu kebanyakan virus,” ujar Joyce dalam diskusi mengenai pneumonia di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Karena itu, perubahan kondisi pasien perlu diperhatikan, terutama ketika gejala tidak kunjung membaik.

Batuk dan demam tak membaik 3 hari perlu diperiksa

Joyce mengingatkan masyarakat tidak terlalu lama melakukan observasi mandiri jika kondisi justru memburuk.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah gejala yang tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa hari. Batuk yang berubah menjadi lebih berdahak serta munculnya sesak napas juga menjadi tanda untuk segera mencari pertolongan medis.

“Kalau tiga hari tidak ada perbaikan, kemudian batuknya itu jadi lebih berdahak, atau secara kita lihat 20 menit pertama orangnya jadi lebih sesak, itu harus segera dibawa ke rumah sakit,” kata Joyce.

Jika pasien sudah mengalami kesulitan bernapas, dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah infeksi telah mencapai saluran pernapasan bawah.

Pemeriksaan penunjang seperti rontgen dada dapat digunakan untuk membantu mendeteksi tanda-tanda pneumonia.

“Di rontgen itu memang sudah ada gambaran ciri khas pneumonia mengarah ke sana,” jelasnya.

Lansia bisa mengalami pneumonia tanpa batuk berdahak

Gejala pneumonia juga tidak selalu sama pada setiap kelompok usia. Pada lansia, misalnya, kemampuan batuk dapat menurun sehingga mereka belum tentu menunjukkan gejala berupa batuk berdahak yang jelas.

Joyce mengatakan kondisi tersebut membuat keluarga perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi lansia dan tidak menunggu munculnya dahak sebelum mencari pertolongan.

“Orang lansia itu kemampuan batuknya kurang. Jadi jangan tunggu dia ada dahak, kadang enggak bisa ngeluarin dahak juga tau-tau pneumonia,” tuturnya.

Untuk memastikan kondisi infeksi pada lansia, dokter dapat melakukan sejumlah pemeriksaan, termasuk pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan dahak, serta rontgen dada.

“Pembuktiannya lewat apa? Pemeriksaan lab dan juga pemeriksaan dahak, kemudian rontgen tadi,” ujar Joyce.

Perokok dan pasien komorbid lebih berisiko

Selain usia, kondisi kesehatan dan paparan asap rokok juga dapat memengaruhi risiko terjadinya komplikasi infeksi pernapasan.

Joyce menyebut risiko meningkat pada perokok, orang yang mengalami penggunaan alkohol kronis, serta pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Beberapa penyakit yang disebut antara lain diabetes, gangguan jantung, stroke, dan gagal ginjal kronis.

“Insidennya meningkat pada seseorang yang perokok, penggunaan alkohol yang kronik, kemudian pasien dengan komorbid,” kata Joyce.

Pada perokok, saluran pernapasan juga dapat mengalami kolonisasi bakteri. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan.

“Kalau perokok sendiri memang ada namanya kolonisasi bakteri di saluran napasnya,” jelasnya.

Ketika pertahanan tubuh melemah akibat infeksi virus, bakteri yang sebelumnya berada di saluran pernapasan dapat berkembang dan mencapai saluran pernapasan bagian bawah.

“Masalahnya, kalau sistem imunnya itu turun, yang pasti yang tadinya ada di saluran napas atas tinggal masuk ke saluran napas bawah,” pungkas Joyce.

Dengan demikian, masyarakat perlu memperhatikan perkembangan gejala Influenza A maupun infeksi saluran pernapasan lainnya. Terutama pada lansia, perokok, serta orang dengan penyakit penyerta, pemeriksaan medis diperlukan apabila kondisi memburuk atau muncul tanda seperti sesak napas.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN