IDAI Ungkap Rantai Keterlambatan Penanganan Penyakit Jantung pada Anak

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) saat mengunjungi acara HAN ke-42 di Hotel Santika Dyandra Medan, Kamis (23/7/2026). (Foto: Berry/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Penyakit jantung pada anak masih menjadi persoalan serius yang belum merata penanganannya di Indonesia. Keterbatasan jumlah dokter subspesialis hingga jauhnya akses layanan kesehatan membuat banyak anak terlambat mendapatkan penanganan.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian bersama.
"Kardiologi anak ini masih menjadi masalah yang perlu kita pecahkan bersama. Tadi juga disampaikan ada keterbatasan konsultan dan jarak yang jauh untuk penanganan masalah anak," ujarnya usai menghadiri Pediatric Cardiology Update (PCU) XIV di Medan, Kamis (23/7/2026).
Menurut Piprim, hambatan penanganan penyakit jantung anak tidak hanya terjadi karena minimnya tenaga ahli.
Ia menyebut masih ada rantai keterlambatan yang kerap dialami pasien, mulai dari terlambat terdiagnosis, terlambat mendapatkan pengobatan, terlambat dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai, hingga akhirnya terlambat menjalani operasi.
Kondisi tersebut, katanya, menjadi tantangan yang harus diselesaikan secara bersama-sama agar anak-anak memiliki kesempatan lebih besar memperoleh penanganan tepat waktu.
Karena itu, IDAI terus mendorong peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui kegiatan ilmiah seperti Pediatric Cardiology Update (PCU) XIV yang digelar bersamaan dengan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) XVI.
Meski demikian, Piprim menegaskan seminar ilmiah saja tidak cukup untuk menjawab persoalan layanan jantung anak di Indonesia.
"Tentu saja tidak cukup hanya dilakukan seminar-seminar, tetapi harus ada kolaborasi dan networking. Yang terpenting adalah kerja nyata dalam menangani masalah jantung anak," tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh dokter spesialis anak dan berbagai pihak untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan anak, khususnya di bidang kardiologi, agar akses layanan dapat dirasakan lebih merata oleh anak-anak di seluruh Indonesia.
Sementara itu, Ketua IDAI Sumatera Utara, dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), mengatakan kegiatan PCU XIV diikuti 382 peserta yang datang dari Aceh hingga Papua. Menurutnya, momentum tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026.
"Semoga kegiatan ini bisa menjadi tujuan yang berkah untuk kita semua. Acara ini sangat spesial karena sekaligus memperingati Hari Anak Nasional 2026 yang jatuh pada hari ini. Puncak kegiatannya nanti dilaksanakan di Samosir," katanya.
Sebagai bagian dari rangkaian HAN ke-42, IDAI Sumut akan menggelar pelayanan kesehatan anak di Kabupaten Samosir pada 24–26 Juli 2026 dengan tema "Membangun Generasi Emas dari Tepian Danau Toba".
Kegiatan tersebut menargetkan pelayanan kesehatan bagi sekitar 600 anak dengan melibatkan sekitar 200 dokter spesialis anak dan 70 dokter subspesialis kardiologi anak.[]






















