Tuesday, June 30, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Dokter Anjurkan Penderita Penyakit Kronis Tidak Bergadang demi Menjaga Kesehatan

Mistar.idSelasa, 30 Juni 2026 pukul 06.01 WIB
dokter_anjurkan_penderita_penyakit_kronis_tidak_bergadang_demi_menjaga_kesehatan

Ilustrasi seseorang dengan penyakit kronis yang sering bergadang sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan. (Foto: Gemini AI/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Tidur menjadi kebutuhan biologis yang sangat penting dengan durasi sekitar 7-9 jam per malam untuk orang dewasa. Kurang tidur ini harus diwaspadai penderita penyakit kronis.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr M Allif Maulana Syafrin Lubis, M.Ked (PD), Sp.PD mengingatkan agar masyarakat sebaiknya mengatur waktu istirahat sebaik mungkin.

"Manfaatkan waktu tidur pengganti bila memungkinkan, hindari konsumsi kafein atau minuman berenergi secara berlebihan," ujarnya kepada Mistar, Senin (29/6/2026).

Menurut beberapa penelitian menunjukkan, tidur kurang dari 6 jam per malam secara konsisten, berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, dan kematian dini.

Dijelaskan Allif, begadang sesekali mungkin masih dapat ditoleransi tubuh sehat, tetapi jika dilakukan berminggu-minggu perlu diwaspadai, terutama penderita hipertensi, diabetes, penyakit jantung, obesitas, dan lansia.

"Bagi penderita penyakit kronis di atas sebaiknya tidak memaksakan diri begadang setiap malam karena lebih rentan merusak kesehatan," ucapnya.

Dokter Klinik Utama Rawat Jalan RL Dermatoclinic menyarankan jika mengalami beberapa keluhan tertentu, sebaiknya segera beristirahat dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Keluhan yang dimaksud mulai dari nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar hebat, pusing berat, atau tekanan darah yang sulit terkontrol maka sesegera mungkin periksakan ke fasilitas kesehatan," katanya.

Perlu diingat, bukan hanya begadang yang berisiko, tetapi kombinasi kurang tidur, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN