Kapal Perang China Sampai di Samudra Pasifik

Kapal Perang China. (Foto: Wahana News)
Beijing, MISTAR.ID
China mengirim kapal perangnya ke Samudra Pasifik bertepatan dengan latihan gabungan yang digelar Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang di kawasan dekat Laut China Selatan dan Taiwan.
Kantor Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan pada Senin (20/4/2026), dua kapal milik China, yakni Baotao dan fregat Tipe 054A Huanggang, melintas di jalur antara Amami Oshima dan Pulau Yokoate pada Minggu (19/4/2026). Pergerakan ini terjadi sehari sebelum latihan militer Balikatan dimulai.
Pihak militer China melalui Komando Teater Timur menyebut pengerahan tersebut bertujuan menguji kemampuan operasi laut jarak jauh. Mereka menegaskan, kegiatan itu merupakan bagian dari latihan rutin tahunan.
"Hal ini sesuai dengan hukum dan praktik internasional, dan tidak menargetkan negara atau entitas tertentu," kata juru bicara komando Kolonel Senior Xu Chenghua, seperti dikutip Japan Times.
Ini pertama kalinya China secara terbuka mengumumkan pengerahan kapal perangnya. Selama ini, Beijing cenderung tidak mempublikasikan aktivitas latihan militer serupa.
Sejumlah pengamat menilai pengumuman tersebut sebagai respons terhadap Jepang, setelah kapal perusak Ikazuchi milik Angkatan Laut Bela Diri Jepang melakukan pelayaran tidak biasa di Selat Taiwan pada Jumat (17/4/2026). Aksi itu sebelumnya telah dikecam China sebagai bentuk provokasi.
Secara umum, kapal militer China lebih sering melintas di sekitar pulau-pulau barat daya Jepang dan menuju Samudra Pasifik melalui Selat Miyako. Meski pernah menggunakan jalur antara Amami Oshima dan Pulau Yokoate, rute tersebut relatif jarang dilalui karena lokasinya yang lebih dekat ke daratan Jepang.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Taiwan mengungkapkan pihaknya mendeteksi kapal induk China, Liaoning, juga berada di Selat Taiwan. Otoritas Taiwan kini memantau ketat pergerakan kapal tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Filipina menggelar latihan militer berskala besar di kawasan Pasifik pada 20 April hingga 8 Mei. Latihan yang berlangsung di sekitar Laut China Selatan dan Taiwan ini turut melibatkan Jepang.
Tokyo mengerahkan sekitar 1.400 personel, sejumlah kapal perang, pesawat, serta sistem rudal anti-kapal Tipe 88. Para analis menilai keterlibatan Jepang dalam skala besar untuk pertama kalinya di Balikatan mencerminkan fokus negara tersebut dalam menghadapi potensi ancaman China terhadap Taiwan.
Ketegangan antara China dan Jepang sendiri meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pernyataan terkait Taiwan pada November lalu. Ia menyebut militer Jepang dapat turun tangan jika konflik terjadi di wilayah tersebut.
China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara pemerintah di Taipei bersikukuh mempertahankan status pemerintahan sendiri. Beijing bahkan berulang kali menyatakan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Taiwan.
Sejak pernyataan tersebut, hubungan kedua negara kian memanas. China diketahui memperketat ekspor barang dwiguna, membatasi logam tanah jarang, hingga mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya.
Dalam konferensi pers pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengingatkan agar latihan militer gabungan antara Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang tidak memicu ketegangan terhadap China. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Sidang Kasus Korupsi Benjamin Netanyahu Ditunda LagiNEXT ARTICLE
Iran Hukum Mati Pria yang Bakar Masjid Saat Demo



















