Tak Pernah Mati, Mengapa Motif Titik Kembali Tren di 2026?

Ilustrasi. (foto: iStockphoto/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Motif polkadot kembali mencuri perhatian di dunia fashion. Pola berupa titik-titik yang selama ini identik dengan rok mengembang, gaun feminin, dan nuansa retro kini hadir dalam beragam desain yang lebih modern.
Polkadot sebenarnya bukan motif yang benar-benar pernah menghilang. Dalam perjalanan mode, pola ini lebih sering mengalami jeda sebelum kembali muncul dengan interpretasi yang berbeda sesuai perkembangan zaman.
Jauh sebelum menjadi bagian dari tren fashion, motif titik memiliki sejarah yang cukup panjang. Perkembangan teknologi tekstil pada masa Revolusi Industri memungkinkan produsen membuat pola dengan bentuk yang lebih teratur dan simetris.
Kemajuan mesin jahit serta teknik produksi kain kemudian membuat motif tersebut semakin mudah dibuat dalam jumlah besar. Namun, pada masa awal kemunculannya, pola titik juga sempat memiliki konotasi yang kurang menyenangkan karena dikaitkan dengan wabah dan persoalan kebersihan.
Istilah polka dots sendiri mulai tercatat dalam media cetak pada 1857. Godey's Lady's Book, majalah perempuan yang terbit di Amerika Serikat, menggunakan istilah tersebut untuk menyebut kain dengan pola titik-titik berbentuk bulat.
Penyebutan polkadot tidak terlepas dari popularitas tarian polka yang tengah digemari masyarakat Eropa dan Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19. Motif berbentuk titik sebenarnya telah digunakan sebelumnya dengan berbagai sebutan, tetapi kemudian istilah polkadot ikut melekat seiring populernya tarian tersebut.
Popularitas polkadot semakin berkembang pada 1926 ketika Norma Smallwood, perempuan pertama dari komunitas Native American yang meraih gelar Miss America, tampil menggunakan pakaian renang bermotif titik.
Beberapa tahun kemudian, karakter Minnie Mouse turut memperkuat popularitas polkadot. Disney mulai menampilkan Minnie dengan busana bermotif tersebut pada era 1930-an, membuat polkadot semakin mudah dikenali dan dekat dengan budaya populer.
Pada dekade 1950-an, polkadot semakin identik dengan kesan feminin. Sejumlah ikon seperti Marilyn Monroe dan Elizabeth Taylor ikut mengenakan motif tersebut. Perancang busana Christian Dior juga memasukkan polkadot ke dalam koleksi New Look miliknya. Salah satu rancangan bermotif polkadot bahkan menjadi koleksi yang sangat laris pada 1954.
Memasuki 1960-an, polkadot kembali mendapatkan karakter baru melalui gaya mod yang populer saat itu. Figur seperti Twiggy dan Goldie Hawn menjadi bagian dari era ketika motif tersebut kembali mendapatkan tempat dalam budaya fashion.
Popularitasnya kemudian berlanjut pada dekade berikutnya. Pada era 1980-an hingga 1990-an, polkadot kembali terlihat dalam penampilan sejumlah figur populer, termasuk Princess Diana, Julia Roberts, dan Prince.
Kini, polkadot kembali hadir dalam berbagai penampilan selebritas dan figur pop. Pada 2026, motif tersebut terlihat digunakan oleh sejumlah nama, mulai dari Ariana Grande dan Olivia Rodrigo hingga aktris sekaligus idol Korea Selatan, Jung Chae-yeon.
Kemunculan kembali polkadot kemudian menimbulkan pertanyaan: mengapa dunia fashion terus menghidupkan kembali gaya yang pernah populer beberapa dekade sebelumnya?
Salah satu penjelasannya dapat ditemukan dalam penelitian The Logic of Fashion Cycles. Studi tersebut menggunakan model matematika untuk melihat bagaimana pilihan dan preferensi terhadap suatu gaya dapat menyebar dari satu individu ke individu lainnya.
Pola yang ditemukan sebenarnya cukup mudah dikenali. Sebuah gaya yang pada awalnya hanya digunakan oleh segelintir orang dapat menyebar dan menjadi populer. Namun, ketika penggunaannya semakin luas dan terasa terlalu umum, orang mulai meninggalkannya.
Setelah melewati periode tertentu, gaya yang sama dapat kembali dipandang menarik. Siklusnya pun berulang: muncul, populer, ditinggalkan, kemudian kembali menemukan penggemarnya.


















