Sunday, June 28, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Saham BUMI Kembali Melemah ke Rp210, Tekanan Jual Investor Capai Rp164,8 Miliar

Mistar.idSenin, 11 Mei 2026 pukul 15.56 WIB
saham_bumi_kembali_melemah_ke_rp210_tekanan_jual_investor_capai_rp1648_miliar

Ilustrasi pergerakan saham (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Saham PT Bumi Resources Tbk kembali mengalami tekanan pada perdagangan sesi pertama Senin (11/5/2026). Emiten batu bara yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Salim tersebut melanjutkan tren pelemahan setelah sebelumnya juga terkoreksi tajam pada akhir pekan lalu.

Hingga pukul 10.42 WIB, saham BUMI tercatat turun 2,78 persen atau melemah 6 poin ke level Rp210 per saham. Aktivitas perdagangan saham ini juga terpantau sangat tinggi di pasar reguler.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan sekitar 1,98 persen saham BUMI telah diperdagangkan dengan frekuensi transaksi mencapai 41.628 kali. Nilai transaksi saham tersebut tercatat sekitar Rp425 miliar.

Tekanan pada saham BUMI dipicu derasnya aksi jual investor. Berdasarkan data perdagangan Stockbit Sekuritas, BUMI membukukan net sell sebesar Rp164,8 miliar, menjadi salah satu saham dengan tekanan jual terbesar pada perdagangan pagi ini.

Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi saham BUMI setelah pada perdagangan Jumat (8/5/2026) lalu saham ini juga turun lebih dari 6 persen.

Di sisi lain, pergerakan pasar saham domestik masih berada di zona negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 62,947 poin atau 0,90 persen ke level 6.906,449 menjelang akhir sesi pertama perdagangan.

IHSG sempat dibuka di level 6.959,943 sebelum mengalami tekanan hingga menyentuh posisi terendah di 6.846,632. Meski sempat bergerak naik, indeks belum mampu kembali menembus level psikologis 6.900.

Mayoritas saham di bursa juga bergerak melemah. Sebanyak 445 saham tercatat turun, sementara 229 saham menguat dan 137 saham stagnan. Volume transaksi pasar mencapai 22,428 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sekitar 1,55 juta kali.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menilai pergerakan pasar pekan ini masih dipengaruhi sentimen global maupun domestik. Menurut dia, isu geopolitik internasional hingga agenda ekonomi dalam negeri menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Selain itu, pasar juga menanti rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026. Perubahan bobot saham dalam indeks dinilai berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Dari sektor pertambangan, pelaku pasar turut mencermati rencana perubahan tarif royalti sejumlah komoditas minerba seperti nikel, timah, emas, dan batu bara. Wacana tambahan kebijakan berupa bea ekspor dan windfall tax juga disebut dapat meningkatkan volatilitas saham sektor tambang dalam waktu dekat.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN