Rupiah Tertekan Dekati Rp18.000, Pengamat Nilai Strategi BI Belum Efektif

Ilustrasi, Rupiah Tertekan Dekati Rp18.000, Pengamat Nilai Strategi BI Belum Efektif. (foto:dokumen/mistar)
Medan, MISTAR.ID – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga berada di level Rp17.950 pada pembukaan dan Rp17.955 pada penutupan perdagangan, Rabu (24/6/2026), atau hampir menembus ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan mata uang ini dinilai cukup ironis, mengingat Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai langkah, termasuk menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai langkah-langkah BI tersebut hanya memberikan penguatan bersifat sementara.
Menurut Gunawan, BI bahkan telah mempercepat rapat dewan gubernur untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin, meningkatkan imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 7,5 persen, serta melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing.
Namun, ia menilai seluruh langkah tersebut belum cukup kuat untuk menjaga rupiah tetap berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
"Upaya yang dilakukan BI itu pastinya berbiaya mahal karena menguras cadangan devisa dan membebani dunia usaha," kata Gunawan.
Ia menambahkan, pendekatan moneter seperti ini jika terus dilakukan dapat membuat fundamental ekonomi menjadi rapuh dan rentan terhadap tekanan krisis.
Gunawan juga menyoroti adanya ketimpangan kebijakan, karena upaya stabilisasi mata uang sejauh ini masih bertumpu pada sektor moneter, sementara kebijakan fiskal pemerintah dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan untuk mengatasi akar persoalan.
Ia mengingatkan pemerintah agar melakukan evaluasi dan berkaca pada pengalaman Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ).
"Pemerintah setidaknya bisa berkaca pada Bank Sentral Jepang atau BoJ. Pendekatan moneter BoJ sejauh ini belum mampu menyelamatkan yen. Padahal jika dilihat dari statistik keuangan, Jepang memiliki fundamental ekonomi yang terlihat lebih baik dibandingkan Indonesia," ucap Gunawan. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Rupiah Kian Tertekan, Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS di Tengah Penguatan Greenback





















