Monday, June 29, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Aksi Jual Asing

Mistar.idSelasa, 12 Mei 2026 pukul 17.17 WIB
rupiah_tembus_rp17500_per_dolar_as_dipicu_geopolitik_dan_aksi_jual_asing

Ilustrasi mata uang (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah sempat menyentuh level Rp17.512 per dolar AS pada pukul 10.18 WIB atau melemah sekitar 0,56 persen. Hingga pukul 12.30 WIB, posisi rupiah masih berada di kisaran Rp17.511 per dolar AS.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan domestik.

Menurutnya, tekanan utama berasal dari aksi jual investor asing di pasar saham dan Surat Utang Negara (SUN) menjelang pengumuman dari Morgan Stanley Capital International atau MSCI terkait pasar Indonesia.

“Investor asing terlihat melakukan aksi jual untuk mengantisipasi perkembangan terkait pengumuman MSCI,” ujar Myrdal.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, turut memperkuat dolar AS sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Faktor lain yang ikut membebani rupiah adalah tingginya permintaan dolar AS di pasar domestik, terutama untuk kebutuhan impor energi seperti minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

Myrdal juga menilai adanya kebutuhan transfer dividen emiten kepada investor asing menjadi faktor musiman yang memperbesar permintaan valuta asing.

Ia memperkirakan rupiah berpotensi bergerak menuju level psikologis Rp17.700 per dolar AS apabila tekanan global dan domestik tidak segera mereda.

“Kalau tensi geopolitik menurun dan harga minyak turun, rupiah berpeluang kembali bergerak di bawah Rp17.000,” katanya.

Sementara itu, pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah masih berpotensi melemah hingga menyentuh Rp17.550 per dolar AS dalam pekan ini.

Menurut Ibrahim, konflik di Timur Tengah yang kembali memanas setelah penolakan proposal damai Iran oleh AS menjadi salah satu faktor dominan penguatan indeks dolar AS.

Ia juga menyoroti keterlibatan Uni Emirat Arab dalam serangan terhadap Iran yang dinilai semakin meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak, khususnya Brent, dinilai berdampak pada meningkatnya biaya transportasi dan memperbesar tekanan ekonomi global.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat menopang penguatan rupiah karena pertumbuhan masih didominasi konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.

Pelaku pasar saat ini juga masih bersikap wait and see menunggu keputusan MSCI terkait transparansi dan penilaian pasar saham Indonesia.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN