Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Produktivitas Sawit Indonesia Tertinggal dari Malaysia, Koq Bisa?

Mistar.idSelasa, 10 Februari 2026 pukul 15.07 WIB
produktivitas_sawit_indonesia_tertinggal_dari_malaysia_koq_bisa_

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. (foto: shutterstock/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Produktivitas kelapa sawit Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi meski Indonesia memiliki luas lahan dan volume produksi kelapa sawit yang jauh lebih besar dibanding negara tetangga tersebut.

Indonesia dan Malaysia selama ini dikenal sebagai dua produsen kelapa sawit terbesar dunia yang bersaing ketat di pasar global. Namun, dari sisi produktivitas per hektare, Indonesia masih belum mampu melampaui Malaysia.

Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), produktivitas sawit Indonesia pada 2025 tercatat 3,61 metrik ton per hektare per tahun, lebih rendah dibandingkan Malaysia yang telah mencapai 4,02 metrik ton per hektare per tahun. Data tersebut disampaikan oleh Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim.

Pada tahun yang sama, produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 46,5 juta metrik ton dengan total luasan lahan sekitar 12,9 juta hektare. Sementara itu, Malaysia hanya memproduksi 20,2 juta metrik ton dengan luas lahan sekitar 5,04 juta hektare.

“Dari sisi produktivitas, Indonesia masih lebih rendah. Padahal luas lahan kita jauh lebih besar dibanding Malaysia,” kata Zaid dalam diskusi di Mövenpick Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Zaid menjelaskan, kesenjangan produktivitas tersebut sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2023, produktivitas sawit Indonesia tercatat 3,63 metrik ton per hektare per tahun, sedangkan Malaysia sudah mencapai 3,68 metrik ton per hektare per tahun.

Selanjutnya, pada 2024 produktivitas Malaysia meningkat menjadi 3,82 metrik ton, sementara Indonesia hanya berada di level 3,53 metrik ton per hektare per tahun. “Ini menjadi tantangan sekaligus peluang.

Dengan luasan lahan yang lebih besar, seharusnya Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitas,” katanya.

Sementara itu, Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan terdapat sejumlah faktor teknis yang menyebabkan produktivitas sawit Indonesia tertinggal dari Malaysia. Salah satunya adalah kualitas varietas tanaman yang masih belum optimal.

Selain itu, praktik budidaya kelapa sawit di Indonesia dinilai masih kalah dibandingkan Malaysia. Faktor lain adalah komposisi umur tanaman, di mana produktivitas optimal dapat tercapai jika proporsi tanaman sawit usia produktif lebih dominan.

Secara historis, Tungkot juga menilai Indonesia relatif terlambat menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan nasional. Malaysia telah lebih dahulu mengembangkan sektor sawit dan menjadikannya sebagai tulang punggung pertanian nasional.

“Malaysia sudah menjadi produsen sawit terbesar dunia sejak 2004. Indonesia baru mulai fokus mengembangkan sawit secara serius setelah itu,” ujar Tungkot.

Ia menambahkan, Malaysia juga telah lebih maju dalam pengembangan sektor hulu, sehingga produktivitas pertanian sawit di negara tersebut lebih tinggi dibandingkan Indonesia.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN