Pengamat: Bukan Kelangkaan Stok, Antrean BBM di Medan Dipicu Panic Buying

Situasi terkini di salah satu SPBU di Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan belakangan ini dinilai bukan murni akibat kelangkaan stok, melainkan dampak dari panic buying.
Ketegangan perang antara Iran dengan AS dan Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama kecemasan masyarakat akan ketersediaan energi.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebutkan bahwa meskipun pemerintah telah menjamin stok aman, narasi tersebut belum mampu meredam kekhawatiran warga yang telanjur “teracuni” oleh isu gangguan pasokan global.
Menurut Gunawan, ada dua faktor psikologis yang mendorong masyarakat melakukan pembelian BBM secara berlebihan, yaitu penutupan Selat Hormuz yang dikhawatirkan mengganggu jalur distribusi minyak internasional yang masuk ke Indonesia.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia dipastikan akan langsung mengerek harga BBM non-subsidi, sementara nasib BBM subsidi masih bergantung pada kebijakan pemerintah.
“Panic buying yang dilakukan warga tentunya memperburuk keadaan. Dampaknya memicu antrean panjang, distribusi menjadi timpang, hingga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, khususnya kendaraan niaga. Namun, ini tidak memicu inflasi secara langsung karena harga BBM di SPBU sejauh ini masih stabil,” kata Gunawan, Senin (9/3/2026).
Gunawan menekankan kunci untuk menghentikan antrean mengular di SPBU adalah kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Narasi penenang saja tidak cukup jika tidak dibarengi bukti nyata di lapangan.
“Pemerintah harus bisa membangun narasi yang menenteramkan dan diikuti upaya memastikan kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi. Di sisi lain, masyarakat sebaiknya tidak melakukan panic buying dan tetap membeli sesuai kebutuhan agar tidak memperburuk situasi yang dirasakan sendiri dampaknya,” ucapnya.
Meskipun distribusi BBM menjadi tantangan akibat antrean, Gunawan mencatat sejauh ini aksi beli panik tersebut belum memberikan dampak sistemik terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat di pasar-pasar tradisional.
Gunawan merangkum analisis dampaknya, seperti terganggunya aktivitas kendaraan barang akibat waktu tunggu antrean yang lama, harga BBM yang tetap stabil namun risiko kenaikan harga BBM non-subsidi tetap tinggi mengikuti pasar dunia, serta penimbunan di tangki kendaraan pribadi yang membuat stok di SPBU lebih cepat habis dari jadwal normal.
Pemerintah dan Pertamina kini ditantang untuk mampu memenuhi lonjakan permintaan mendadak (potential demand) guna membuktikan bahwa ketahanan energi nasional memang berada dalam posisi yang kuat meski di tengah bayang-bayang perang di Timur Tengah. (hm25)


















