Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

China Targetkan Tambahan Ekonomi Rp13.000 Triliun di 2026, Asia Berpotensi Ikut Terdorong

Mistar.idMinggu, 8 Maret 2026 pukul 17.10 WIB
china_targetkan_tambahan_ekonomi_rp13000_triliun_di_2026_asia_berpotensi_ikut_terdorong

Ilustrasi, China Targetkan Tambahan Ekonomi Rp13.000 Triliun di 2026, Asia Berpotensi Ikut Terdorong. (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pemerintah China optimistis ekonominya tetap tumbuh pada 2026 dengan tambahan output ekonomi lebih dari 6 triliun yuan atau sekitar Rp13.000–14.000 triliun. Tambahan tersebut menunjukkan bahwa meskipun laju pertumbuhan melambat, skala ekonomi China masih sangat besar dan tetap menjadi motor ekonomi global.

Target itu sejalan dengan sasaran pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,5–5 persen pada 2026, sebagaimana disampaikan dalam laporan kerja pemerintah pada sidang parlemen tahunan China.

Meski menjadi target pertumbuhan terendah dalam beberapa dekade, pemerintah China menilai angka tersebut lebih realistis di tengah berbagai tantangan global dan domestik, termasuk lemahnya permintaan dalam negeri dan tekanan di sektor properti.

Dengan ukuran ekonomi China yang telah melampaui 140 triliun yuan atau sekitar US$20 triliun pada 2025, bahkan pertumbuhan moderat tetap menghasilkan tambahan nilai ekonomi yang sangat besar setiap tahun.

Strategi China Menjaga Pertumbuhan

Untuk mencapai target tersebut, Beijing mulai menggeser strategi ekonomi dari pertumbuhan cepat menuju “high-quality growth” atau pertumbuhan berkualitas.

Pemerintah menaruh fokus besar pada pengembangan sektor teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, serta industri manufaktur maju. Selain itu, investasi di bidang riset dan inovasi juga ditingkatkan untuk memperkuat daya saing industri domestik.

Di sisi lain, China juga berupaya memperkuat konsumsi domestik agar tidak terlalu bergantung pada ekspor. Salah satu langkahnya adalah program stimulus konsumsi, termasuk subsidi dan program tukar tambah kendaraan, peralatan rumah tangga, dan produk digital.

Program tersebut bahkan telah mendorong penjualan barang konsumsi hingga 2,6 triliun yuan pada 2025, dengan partisipasi lebih dari 360 juta konsumen.

Pemerintah juga memperkuat sektor keuangan untuk menopang perekonomian. Salah satunya dengan rencana injeksi sekitar 300 miliar yuan ke bank milik negara guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan memperkuat pembiayaan sektor teknologi.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari transisi menuju Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) yang menekankan inovasi teknologi, digitalisasi ekonomi, serta penguatan konsumsi domestik.

Dampak ke Perdagangan Asia

Pertumbuhan ekonomi China selalu memiliki dampak luas bagi kawasan Asia karena negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar bagi banyak negara di kawasan.

Jika ekonomi China benar-benar bertambah lebih dari 6 triliun yuan pada 2026, permintaan impor terhadap berbagai komoditas dan produk industri berpotensi meningkat.

Negara-negara Asia biasanya memasok berbagai kebutuhan industri China, mulai dari bahan baku logam, energi, komponen elektronik, hingga produk manufaktur menengah.

Selain itu, China juga memainkan peran penting dalam rantai pasok global. Banyak industri di Asia terintegrasi dengan basis produksi China, terutama pada sektor elektronik, otomotif, dan mesin industri.

Dengan demikian, peningkatan aktivitas ekonomi China dapat memperkuat rantai pasok regional dan mendorong perdagangan intra-Asia.

Peluang Ekspor Negara Berkembang

Bagi negara berkembang, pertumbuhan ekonomi China juga membuka peluang ekspor yang lebih besar.

China tetap menjadi pembeli utama berbagai komoditas dunia, termasuk batu bara, bijih logam, minyak sawit, gas alam, hingga produk pertanian. Peningkatan aktivitas industri dan konsumsi domestik berpotensi memperbesar kebutuhan impor tersebut.

Selain komoditas, peluang juga terbuka pada sektor manufaktur menengah seperti bahan kimia, logam industri, dan komponen elektronik yang menjadi bagian dari rantai produksi global.

Dengan kata lain, meskipun laju pertumbuhan China tidak lagi setinggi satu dekade lalu, skala ekonominya membuat setiap kenaikan kecil sekalipun tetap memberikan dampak besar bagi perdagangan global.

Tambahan ekonomi lebih dari 6 triliun yuan dalam satu tahun bahkan setara dengan ukuran ekonomi tahunan sejumlah negara menengah di dunia—sebuah gambaran betapa besar pengaruh China dalam peta ekonomi global saat ini.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN