Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Target Pertumbuhan Ekonomi China Dipangkas ke 4,5–5%, Terendah dalam 35 Tahun

Mistar.idJumat, 6 Maret 2026 pukul 15.36 WIB
target_pertumbuhan_ekonomi_china_dipangkas_ke_455_terendah_dalam_35_tahun

Ilustrasi, Target Pertumbuhan Ekonomi China Dipangkas ke 4,5–5%, Terendah dalam 35 Tahun. (foto:britannica/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi tahunannya menjadi kisaran 4,5 hingga 5 persen, angka terendah sejak 1991. Penurunan target ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, baik dari dalam negeri maupun tekanan global.

Target terbaru ini menjadi yang pertama kali diturunkan sejak pemerintah menetapkan sasaran pertumbuhan “sekitar 5 persen” pada 2023. Sebelumnya, China bahkan tidak menetapkan target pada tahun 2020 karena dampak pandemi Covid-19.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam pertemuan politik terbesar China yang dikenal sebagai “dua sesi” (Two Sessions), agenda tahunan yang mempertemukan para pemimpin negara untuk membahas arah kebijakan ekonomi dan politik nasional.

Selain target pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga merilis sejumlah rincian awal Rencana Lima Tahun ke-15, yang akan menjadi panduan pembangunan ekonomi China hingga sekitar tahun 2030.

China Hadapi Tantangan Ekonomi Besar

Pemerintah di Beijing tengah berupaya membentuk ulang struktur ekonominya di tengah berbagai tantangan yang semakin kompleks.

Beberapa masalah utama yang dihadapi China antara lain:

- lemahnya konsumsi domestik

- penurunan jumlah penduduk

- krisis sektor properti yang berkepanjangan

- ketegangan perdagangan global

- tekanan energi akibat konflik geopolitik

Seorang analis China mengatakan kepada BBC bahwa target pertumbuhan yang lebih rendah justru memberi ruang bagi pemerintah untuk mengelola ekonomi dengan lebih fleksibel.

Jason Bedford, analis dari kelompok riset East Asian Institute, mengatakan bahwa target yang lebih rendah memberi China lebih banyak ruang untuk mengelola perekonomian tanpa dipaksa membuat komitmen keuangan besar hanya untuk mencapai angka tertentu.

Menurutnya, China pernah menggunakan target yang lebih fleksibel selama pandemi, namun langkah tersebut tidak biasa dalam kebijakan ekonomi jangka panjang negara tersebut.

Rencana Lima Tahun Fokus Teknologi dan Inovasi

Target pertumbuhan ekonomi dan arah pembangunan baru China dituangkan dalam laporan setebal 46 halaman yang dipresentasikan oleh Perdana Menteri Li Qiang kepada para delegasi.

Dokumen tersebut menguraikan rencana ambisius pemerintah untuk memperkuat sektor strategis seperti:

- inovasi teknologi

- industri teknologi tinggi

- penelitian ilmiah

- peningkatan konsumsi rumah tangga

Pemerintah China juga merencanakan lebih dari 100 proyek besar dalam lima tahun ke depan untuk memperluas kapasitas industri nasional, dengan fokus pada sektor teknologi, transportasi, dan energi.

Langkah ini sekaligus menegaskan ambisi Beijing untuk menjadi kekuatan teknologi global, termasuk dengan memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor industri.

Selain itu, China juga menargetkan percepatan transisi energi hijau, penurunan emisi karbon, serta peningkatan perlindungan lingkungan.

Konsumsi Lemah dan Krisis Properti Jadi Sorotan

Pemerintah China menyadari bahwa lemahnya konsumsi domestik menjadi salah satu masalah utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selama beberapa tahun terakhir, perekonomian China semakin bergantung pada ekspor untuk menopang pertumbuhan.

Padahal sebelumnya, sektor properti merupakan salah satu motor ekonomi terbesar negara tersebut. Industri ini pernah menyumbang hampir sepertiga dari total perekonomian China.

Namun krisis properti yang berkepanjangan telah menekan aktivitas ekonomi, memicu pemutusan hubungan kerja, serta menyebabkan pemotongan gaji di berbagai sektor.

Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan konsumsi domestik.

Surplus Perdagangan China Tetap Tinggi

Di tengah berbagai tekanan ekonomi domestik, sektor manufaktur dan ekspor masih menjadi penopang utama perekonomian China.

Tahun lalu, China mencatat surplus perdagangan terbesar di dunia, dengan nilai mencapai sekitar US$1,19 triliun atau setara hampir £890 miliar.

Surplus perdagangan tersebut menunjukkan tingginya nilai ekspor China dibandingkan dengan impor.

Namun ketergantungan terhadap ekspor juga memiliki risiko, terutama di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.

Tekanan dari Kebijakan AS

Ekonomi China juga menghadapi tekanan tambahan dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah produk China menambah beban bagi sektor ekspor negara tersebut.

Sebagai respons, Beijing mulai mengalihkan perdagangan ke berbagai negara lain agar produk manufakturnya tetap terserap pasar global.

Trump sendiri diperkirakan akan melakukan kunjungan ke China pada April mendatang untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping dalam pembicaraan tatap muka pertama mereka tahun ini.

Tantangan Demografi dan Energi

Selain tantangan ekonomi, China juga menghadapi persoalan demografi yang semakin serius.

Negara tersebut kini menghadapi populasi yang menua dan angka kelahiran yang terus menurun, yang dapat memengaruhi produktivitas ekonomi dalam jangka panjang.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah berencana membangun “masyarakat yang ramah terhadap persalinan” melalui kebijakan baru di bidang lapangan kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Di sisi lain, konflik geopolitik juga memengaruhi pasokan energi China. Perang antara AS, Israel, dan Iran disebut telah mengganggu akses Beijing terhadap sumber minyak murah.

Meski demikian, pemerintah China menegaskan bahwa ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir karena peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Ekonomi China Dinilai Masih Tangguh

Meski target pertumbuhan diturunkan, sejumlah analis menilai langkah tersebut mencerminkan sikap realistis pemerintah China.

Analis kebijakan dari China Macro Group, Zhou Zheng, menyebut target baru tersebut menunjukkan bahwa Beijing sedang menyesuaikan diri dengan tantangan ekonomi domestik dan global yang semakin kompleks.

Namun peneliti dari Universitas Georgetown, Ning Leng, mengingatkan bahwa angka pertumbuhan resmi China tetap perlu disikapi dengan hati-hati.

Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi lainnya masih menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih lemah dibandingkan data resmi.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi China tetap dianggap sebagai pencapaian besar karena negara tersebut sedang menghadapi berbagai masalah struktural secara bersamaan.

(bbc/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN