Langka-Dijual di Atas HET, Pengamat: Pemerintah Harus Evaluasi Skema Produksi Minyakita

Salah seorang penjual Minyakita di Pasar Kampung Lalang, Medan. (foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Minyakita mulai langka di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan. Kondisi ini memicu lonjakan harga di tingkat pedagang yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai kelangkaan ini merupakan dampak domino dari kenaikan harga bahan baku global dan biaya kemasan yang membengkak pasca-eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat.
Gunawan mencatat harga minyak sawit mentah (CPO) dunia saat ini bertengger di kisaran 4.560 ringgit per ton, jauh lebih tinggi dibanding posisi akhir Februari yang masih di angka 4.000 ringgit. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak goreng curah di pasar lokal.
"Mengacu pada data PIHPS Sumut, rata-rata minyak goreng curah kini dijual Rp21.300 per kg. Padahal sebelum perang harganya masih di rentang Rp18.000 hingga Rp19.500 per kg," ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Lonjakan harga minyak curah inilah yang memicu migrasi besar-besaran konsumen ke Minyakita yang HET-nya dipatok Rp15.700 per kg. Tingginya permintaan yang tidak dibarengi pasokan yang stabil membuat harga Minyakita di lapangan justru menyentuh angka Rp20.000 per kg.
Menurut Gunawan, pemerintah dan produsen kini terjepit dalam tiga masalah utama, seperti pelemahan kinerja ekspor sawit akibat perang membuat kewajiban pasokan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) ikut turun. Jika ekspor lesu, maka alokasi produksi Minyakita yang menjadi syarat ekspor juga berisiko berkurang.
"Biaya kemasan plastik naik tajam dan pasokannya terganggu. Ini menambah beban produksi yang harus ditanggung perusahaan," katanya.
Meski saat ini harga CPO naik karena harga minyak dunia, ada risiko penurunan permintaan global yang bisa merusak fundamental industri sawit dari hulu ke hilir jika perang berlarut-larut.
Gunawan menilai skema produksi Minyakita saat ini layak untuk dievaluasi oleh pemerintah agar tidak terjadi kekosongan stok yang berkepanjangan.
"Ketika harga CPO naik dibarengi dengan kenaikan harga plastik, kebijakan produksi Minyakita memang layak untuk diubah. Jika eskalasi perang meningkat, hal ini tidak hanya menekan harga tapi juga rawan mengganggu ketersediaan barang di pasar," ucapnya.
Ia memprediksi harga CPO masih berpeluang mengalami koreksi jika gangguan distribusi global kian parah, namun masyarakat diingatkan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok dalam jangka pendek.
PREVIOUS ARTICLE
Stok Beras Bulog Sumut 61 Ribu Ton, Aman hingga Iduladha 2026





















