Harga Pertamax Rp16.650 per Liter, Warga Medan Beralih ke Pertalite dan Rela Antre Panjang

Deretan kendaraan roda dua mengantre di jalur pengisian BBM subsidi jenis Pertalite di salah satu SPBU di Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) yang kini mencapai Rp16.650 per liter memicu pergeseran pola konsumsi di kalangan pengendara di Kota Medan.
Selisih harga yang mencapai Rp6.650 per liter dibandingkan Pertalite membuat sebagian pengguna Pertamax beralih ke BBM bersubsidi tersebut untuk menekan pengeluaran harian.
Fenomena ini tidak hanya memicu antrean panjang di jalur pengisian Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), tetapi juga menjadi dilema bagi mahasiswa dan pekerja dengan anggaran transportasi terbatas.
Bagi kalangan mahasiswa, kenaikan harga Pertamax dinilai cukup memberatkan karena berdampak langsung pada biaya mobilitas sehari-hari.
Aditya, mahasiswa salah satu universitas swasta di Medan yang sebelumnya menggunakan Pertamax, mengaku terpaksa beralih ke Pertalite agar pengeluaran bulanannya tetap terkendali.
"Sejak kenaikan Pertamax, sebagai mahasiswa saya akhirnya memutuskan beralih ke Pertalite yang harganya masih Rp10.000 per liter. Uang saku yang saya terima sudah tidak sesuai lagi dengan harga Pertamax sekarang," kata Aditya, Jumat (12/6/2026).
Namun, upaya penghematan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Menurutnya, tingginya permintaan Pertalite membuat stok di beberapa SPBU sempat kosong.
"Kemarin Pertalite sempat kosong di SPBU langganan saya. Akhirnya saya terpaksa mengisi Pertamax Rp40.000. Rasanya sedih karena uang yang biasanya bisa membuat tangki motor hampir penuh, sekarang tidak lagi karena harga Pertamax naik," ujarnya.
Dampak kenaikan harga juga dirasakan Anita, pengendara sepeda motor yang sebelumnya kerap memilih Pertamax saat antrean Pertalite terlalu panjang.
Sebelum penyesuaian harga pada 10 Juni 2026, Anita mengaku sesekali menggunakan Pertamax untuk menghemat waktu ketika sedang terburu-buru. Namun, kebiasaan itu kini ditinggalkannya.
"Saya sebenarnya pengguna Pertalite, tapi kadang mengisi Pertamax kalau antrean Pertalite terlalu panjang dan saya sedang buru-buru. Namun, setelah harganya naik, saya jadi berpikir dua kali," katanya.
Menurut Anita, selisih biaya yang harus dikeluarkan lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya daripada membeli BBM yang lebih mahal.
"Mulai sekarang saya tetap menggunakan Pertalite meskipun harus mengantre lebih lama. Sayang uangnya kalau harus membeli Pertamax dengan harga sekarang," tuturnya.
Kenaikan harga Pertamax tidak hanya mengubah pilihan bahan bakar masyarakat, tetapi juga berdampak pada pola antrean di sejumlah SPBU di Kota Medan yang kini didominasi kendaraan pengguna Pertalite.




















