Harga Emas Global Anjlok, Jadi Penurunan Mingguan Paling Tajam Sejak 1983

Emas. (Foto: Antara)
Jakarta, MISTAR.ID
Harga emas global anjlok di tengah ketegangan geopolitik akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam sepekan terakhir, logam mulia itu disebut mencatat performa mingguan terburuk sejak 1983.
Mengutip CNN, Selasa (24/3/2026), harga emas dunia merosot 11 persen selama sepekan perdagangan terakhir. Itu menjadi penurunan mingguan paling tajam sejak 1983. Jika dihitung sejak pecah perang antara AS dan Iran, pelemahannya bahkan sudah melampaui 14 persen.
Emas selama ini dikenal sebagai aset aman yang diburu investor saat inflasi naik, nilai mata uang tertekan, atau situasi krisis memburuk. Namun kali ini, lonjakan harga energi di tengah konflik justru membuat sejumlah bank sentral kembali menimbang arah kebijakan suku bunga.
Situasi tersebut ikut menekan harga emas. Pasalnya, gejolak pasar malah memperkuat dolar AS dan mendorong investor meninjau ulang kepemilikan aset mereka.
Pelaku pasar saat ini menilai bank sentral AS atau The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga di level saat ini sepanjang tahun. Kondisi itu dinilai meningkatkan daya tarik instrumen berimbal hasil seperti obligasi.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan tak akan ada lagi pemangkasan suku bunga tahun ini. Dalam rapat FOMC sebelumnya, The Fed juga memutuskan menahan suku bunga.
Sebelumnya, harga emas sempat terdorong naik saat The Fed memangkas suku bunga dalam tiga kesempatan beruntun. Namun dalam beberapa bulan mendatang, suku bunga diperkirakan tetap bertahan, yang berarti imbal hasil obligasi berpotensi meningkat.
Bukan hanya The Fed, sejumlah bank sentral di berbagai negara juga mulai menyesuaikan arah kebijakannya akibat perang Iran dan gejolak harga energi. Kekhawatiran terhadap inflasi membuat bank sentral cenderung menahan suku bunga atau bahkan menaikkannya, seperti yang dilakukan Reserve Bank of Australia.
Di sisi lain, dolar AS perlahan menguat kembali sepanjang bulan ini. Penguatan tersebut membuat emas terasa lebih mahal bagi investor global, karena harga logam mulia sangat dipengaruhi pergerakan mata uang Amerika.
"Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar," kata Ekonom Fundstrat, Hardika Singh.
Secara umum, emas lebih diuntungkan ketika dolar AS melemah karena harganya menjadi relatif lebih murah bagi investor di berbagai negara. Namun sejak perang AS dan Iran berlangsung, indeks dolar justru naik hampir 2 persen.
Kondisi itu ikut menggerus pesona emas. Permintaan terhadap aset aman, kekhawatiran inflasi, serta prospek suku bunga tinggi justru menopang dolar AS. Pasar pun melihat perang Iran berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap ekonomi global.
Selain itu, reli harga emas dalam beberapa bulan terakhir juga mulai kehilangan tenaga. Ada kemungkinan investor menjual emas untuk menutup kerugian di instrumen lain. Momentum emas memang mulai surut setelah harganya melesat tajam selama dua tahun terakhir.
Pada 2025, harga emas dunia sempat membukukan lonjakan tahunan tertinggi sejak 1979, yakni sebesar 64 persen. Logam mulia itu bahkan menembus level US$ 5.000 per troy ons untuk pertama kalinya pada Januari. Namun pada Jumat lalu, harganya kembali turun hingga di bawah US$ 4.500 per troy ons seiring meredanya euforia pasar. (hm20)






















