Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

H-1 Ramadan 1447 H, Harga Bumbu Dapur di Pematangsiantar Masih Tinggi, Ini Analisis Ekonom

Mistar.idRabu, 18 Februari 2026 pukul 17.13 WIB
h1_ramadan_1447_h_harga_bumbu_dapur_di_pematangsiantar_masih_tinggi_ini_analisis_ekonom

Suasana pasar tradisional Dwikora. (foto:abdi/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Fenomena tahunan lonjakan harga bahan pokok kembali membayangi masyarakat Kota Pematangsiantar menjelang satu hari (H-1) pelaksanaan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Meski beberapa komoditas mulai menunjukkan pelandaian, mayoritas harga bumbu dapur masih betah di level tinggi.

Berdasarkan pantauan di Pasar Tradisional Dwikora, Rabu (18/2/2026), dinamika harga pangan menunjukkan tren yang menantang bagi kantong konsumen. Cabai merah Rp32.000 hingga Rp36.000 per kilogram, bawang putih Rp36.000 per kilogram, bawang merah Rp28.000 hingga Rp32.000 per kilogram, dan cabai rawit Rp32.000 hingga Rp36.000 per kilogram.

Mak Steven, salah satu pedagang di Pasar Dwikora, menyebutkan bahwa meski pasokan cabai rawit mulai lancar, komoditas lain seperti cabai merah dan bawang putih masih terkendala stok dari pemasok.

Imbasnya terasa pada psikologi pasar. Mariana, pedagang lainnya, mencatat adanya penurunan volume belanja masyarakat secara signifikan.

"Pembeli yang biasanya sanggup beli satu kilo, sekarang cuma setengah atau seperempat kilo. Keluhan pelanggan makin sering terdengar," ucapnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Simalungun, Darwin Damanik, membedah fenomena ini melalui tiga variabel ekonomi utama yang memicu lonjakan harga.

"Yang pertama, shock demand dan pergeseran kurva. Budaya munggahan dan persiapan stok pangan keluarga menciptakan pergeseran kurva permintaan ke kanan secara ekstrem dalam waktu singkat. Yang kedua, simetri informasi. Ada unsur self-fulfilling prophecy. Pedagang menaikkan harga bukan semata karena stok habis, melainkan karena ekspektasi pasar bahwa harga memang seharusnya naik di momen Ramadan. Dan yang terakhir, distorsi logistik, yaitu ketergantungan pada rantai distribusi membuat harga rentan terhadap permainan spekulan di tingkat pengepul atau hambatan teknis di perjalanan," ujarnya.

Darwin menjelaskan bahwa pergerakan harga pangan selama Ramadan biasanya membentuk kurva U.

"Minggu pertama Ramadan harga mungkin sedikit terkoreksi atau stabil di level tinggi. Namun, waspadai H-7 Idulfitri. Harga diprediksi akan kembali meroket ke puncak kedua karena permintaan persiapan hari raya yang jauh lebih masif," ucapnya.

Darwin menambahkan, normalisasi harga diperkirakan baru akan terjadi pada H+7 Lebaran, saat rantai distribusi kembali pulih dan tingkat konsumsi masyarakat mulai jenuh.

Agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus, Darwin menekankan pentingnya intervensi strategis dari pemerintah daerah.

"Empat langkah kunci yang harus segera diambil adalah operasi pasar secara berkala, manajemen stok yang transparan, kelancaran logistik dari hulu ke hilir, dan pengawasan distribusi untuk meminimalkan praktik spekulan," tuturnya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN