Tuesday, June 9, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Kerek Suku Bunga Acuan ke 5,5 Persen, Rupiah Jadi Rp18.050

Mistar.idSelasa, 9 Juni 2026 19.38
EH
AA
bi_kerek_suku_bunga_acuan_ke_55_persen_rupiah_jadi_rp18050

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang. (Foto: Bloomberg Technoz)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Langkah taktis yang diambil Bank Indonesia (BI) dalam mengintervensi pasar moneter membuahkan hasil positif. Kebijakan bank sentral yang memutuskan untuk mengerek naik suku bunga acuan (BI-Rate) berhasil menjadi amunisi kuat yang meredam tekanan sekaligus memicu penguatan tajam pada nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026), mata uang Rupiah dilaporkan melesat tajam dan mendarat di posisi Rp18.050 per Dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya sempat terpuruk ke level Rp18.100.

Sentimen positif ini turut menularkan gairah ke lantai bursa, di mana IHSG ditutup melonjak signifikan sebesar 7,57 persen ke level 5.746,64.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai respons moneter yang diambil oleh Bank Indonesia ini sudah dinanti-nanti dan terbaca dengan baik oleh para pelaku pasar.

Kendati pasar finansial domestik merespons dengan riuh, Gunawan mengingatkan agar otoritas tidak cepat berpuas diri.

Dirinya mewanti-wanti bahwa stabilitas hari ini belum menjadi jaminan mutlak pasar keuangan telah aman dari potensi guncangan di masa mendatang.

Eskalasi perang yang kian memanas di Timur Tengah setelah aksi saling serang antara blok AS dan Iran dinilai masih menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa memicu pelarian modal asing secara masif.

"Kebijakan BI mengerek bunga acuan menjadi 5,5 persen terbukti manjur menahan pelemahan Rupiah untuk jangka pendek. Namun, daya pukul kebijakan ini bisa menjadi tidak berarti atau netral apabila Bank Sentral AS, The Fed, dan bank sentral Tiongkok ikut mengambil langkah serupa, yaitu menaikkan suku bunga acuan mereka pekan ini demi meredam inflasi global," kata Gunawan, Selasa (9/6/2026).

Oleh karena itu, Gunawan menegaskan pendapat yang menganggap bahwa menaikkan suku bunga terus-menerus adalah satu-satunya obat penawar untuk menyelamatkan Rupiah dan IHSG merupakan pemikiran yang keliru.

Menurut Gunawan, jangkar penyelamat ekonomi nasional yang paling tangguh saat ini justru berada di tangan kebijakan fiskal pemerintah, bukan sekadar instrumen moneter BI.

Pemerintah pusat dan daerah dituntut harus mampu menjaga dan memastikan pasokan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dengan harga terjangkau.

Langkah konkret yang mendesak untuk dilakukan adalah memperketat keran impor barang konsumtif agar defisit transaksi berjalan tidak membengkak, sehingga ketergantungan terhadap Dolar AS bisa ditekan seminimal mungkin.

"Penguatan IHSG dan Rupiah hari ini harus didukung dengan pengelolaan fiskal yang ekstra hati-hati (prudent) ke depan agar tidak menimbulkan gejolak baru di pasar keuangan. Jika ketahanan pangan dan energi dalam negeri rapuh, pelemahan Rupiah hebat yang memicu krisis ekonomi lebih luas berpeluang terjadi," ucapnya.

Selain fokus pada bursa saham dan kurs valas, Gunawan menyebut pasar obligasi juga akan menjadi perhatian serius sepanjang bulan Juni ini.

Keberhasilan pemerintah dalam menyerap likuiditas valuta asing lewat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dinilai bisa menjadi modal tambahan untuk menjaga stabilitas Rupiah agar lebih terkendali.

Sementara itu dari pasar komoditas, harga emas dunia terpantau bergerak relatif stabil di level 4.330 Dolar AS per ons troy, atau masih berada di kisaran Rp2,52 juta per gram.

Tekanan yang terjadi pada harga emas domestik (Antam) yang sempat turun hari ini lebih didominasi oleh koreksi teknis menyusul melemahnya keperkasaan indeks Dolar AS di pasar global setelah dibombardir oleh kebijakan pengetatan moneter dari Bank Indonesia. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN