Guru Harapkan Perhatian Pemerintah untuk Atasi Ketimpangan Pendidikan di Pedalaman

Yuliana Giawa, Kepala SDN 077311 Tuhoowo. (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Wilayah pedalaman masih rentan mengalami ketimpangan dalam dunia pendidikan, salah satunya kurangnya tenaga pendidik atau guru. Hal itu disampaikan oleh Yuliana Giawa, Kepala SDN 077311 Tuhoowo.
Salah satu contoh adalah sekolahnya di daerah Nias Selatan yang hanya memiliki satu guru PNS, sementara sembilan lainnya berstatus honorer dengan gaji minim.
“Bayangkan itu, sepuluh guru honorer full time datang setiap hari dan gajinya hanya dua puluh persen dari dana BOS,” ujarnya kepada Mistar, Kamis (4/12/2025).
Menurut yuliana, kondisi tersebut menggambarkan beratnya perjuangan guru di pedalaman yang tetap hadir ke sekolah meski akses sulit. Ia mengakui masih harus menempuh sebagian perjalanan dengan berjalan kaki saat menuju sekolah.
Dengan adanya beragam perayaan Hari Guru Nasional beberapa waktu lalu, yuliana berharap pemerintah memberi perhatian lebih dalam pemerataan guru dan percepatan penerbitan SK bagi guru PPPK maupun guru paruh waktu.
Ia juga menyinggung minimnya fasilitas digital. Meskipun sekolahnya sudah menerima smart TV, ketiadaan WiFi membuat pemanfaatannya belum optimal.
“Kalau pakai paket handphone, cepat sekali habis. Kami butuh sekali WiFi itu,” katanya dengan wajah penuh harap.
Yuliana menyebut sekolahnya terpilih sebagai sasaran program koding dan kecerdasan artifisial (KKA), bukan tanpa alasan. Meski berada di wilayah pedalaman, sekolah tersebut tetap berupaya mengikuti perkembangan zaman dan mendorong siswa mencapai delapan profil lulusan pembelajaran mendalam.
Ia berharap pemerintah meningkatkan perhatian terhadap fasilitas digital di pedalaman agar anak-anak desa tidak semakin tertinggal.
“Supaya generasi ke depan ini bisa sekolah masing-masing itu, baik di pedalaman maupun di kota, bisa mencetak generasi emas 2045 yang bisa bersaing sehat di dunia pendidikan,” tuturnya.
Yuliana kembali menambahkan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui pembelajaran digitalisasi juga penting untuk masa depan pendidikan daerah terpencil.
“Kita juga senang dengan adanya kegiatan-kegiatan untuk guru, agar ke depan guru lebih berkompetensi, apalagi dengan mengikuti pembelajaran digitalisasi saat ini,” katanya lagi. (hm25)






















