Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Cegah Perundungan, Mahasiswa USU Sosialisasikan Sekolah Ramah di SMAN 15 Medan

Mistar.idKamis, 4 Desember 2025 pukul 12.18 WIB
cegah_perundungan_mahasiswa_usu_sosialisasikan_sekolah_ramah_di_sman_15_medan

Kelompok mahasiswa proyek MKWK 44 Universitas Sumatera Utara bersama siswa SMA Negeri 15 Medan dalam sosialisasi pencegahan perundungan. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sebanyak 20 mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 44 melakukan sosialisasi pencegahan perundungan di SMA Negeri 15 Medan.

Ketua kelompok MKWK 44, Felix Christopher Alexander Tampubolon, menjelaskan fenomena perundungan menjadi persoalan serius di lingkungan sekolah, termasuk pada jenjang pendidikan menengah.

Ia menyebut, bentuk perundungan seperti kekerasan verbal, fisik, maupun perundungan sosial, masih kerap terjadi tanpa disadari dan bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi korban.

Felix mengatakan, proyek MKWK 44 dirancang agar siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga mampu mengamati, menganalisis, dan menyampaikan informasi mengenai perundungan di sekitar mereka.

“Perundungan sering terjadi di sekitar kita, baik langsung maupun lewat media sosial. Banyak yang diremehkan atau diperlakukan tidak adil hanya karena perbedaan, padahal tidak ada alasan merendahkan orang lain,” ujarnya kepada Mistar, Kamis (4/12/2025).

Felix menegaskan semua orang berhak merasa aman dan dihargai. Ia mendorong siswa untuk berani bersuara, saling mendukung, serta menghentikan rantai perundungan dengan membangun lingkungan yang penuh empati dan kepedulian.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menciptakan sekolah yang aman, ramah, dan menguatkan peran siswa sebagai agen perubahan anti-perundungan, sejalan dengan program pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.

“Kolaborasi siswa, guru, dan pihak sekolah penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Kesadaran kolektif dan sikap saling menghargai harus dibangun terus agar pencegahan perundungan bisa berjalan secara berkelanjutan,” ucapnya.

Kepala SMA Negeri 15 Medan, Gokman Sianturi bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Astomo Siregar menyambut baik kegiatan tersebut sebagai langkah penting menciptakan lingkungan belajar yang bebas perundungan.

“Sosialisasi ini penting untuk membentuk karakter siswa. Kami berharap siswa bisa memahami bahwa perundungan berdampak pada mental, masa depan, dan dapat melukai secara fisik,” ujar gokman.

Astomo menambahkan, sekolah ramah tanpa perundungan bisa terwujud melalui edukasi yang tepat, sehingga siswa terbiasa bersikap empati, menghormati sesama, dan menjadi agen perubahan di lingkungannya. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN