Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Pengabdian Zuraidah, 27 Tahun Mengayuh Sepeda Tua Demi Mengajar Al-Qur’an

Mistar.idJumat, 28 November 2025 pukul 07.00 WIB
pengabdian_zuraidah_27_tahun_mengayuh_sepeda_tua_demi_mengajar_alquran

Zuraidah dengan sepeda tua peninggalan orang tuanya (foto:istimewa/mistar)

news_banner

Sergai, MISTAR.ID

Sebuah sepeda tua yang setiap hari melintasi tiga desa di Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) menjadi saksi betapa besar pengabdian seorang guru bernama Zuraidah.

Di usianya yang telah menginjak 62 tahun, ia masih setia mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 3,5 kilometer setiap Senin hingga Jumat demi menunaikan amanah mengajar Al-Qur’an.

Di tengah semarak peringatan Hari Guru Nasional, perjalanan panjang Zuraidah menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu dibangun dari fasilitas yang megah, melainkan dari ketulusan orang-orang seperti dirinya.

Perjalanan hariannya dimulai dari Desa Besar II Terjun, melewati Desa Pantai Cermin Kiri, hingga berhenti di MDTA Darul Arifin, madrasah kecil dengan dua ruang kelas yang berada di perbatasan dua desa, yaitu Kota Pari dan Pantai Cermin Kanan. Di tempat sederhana itulah ribuan kenangan tumbuh bersama generasi yang belajar mengenal huruf Arab dan ayat-ayat suci.

Sejak 1999, Zuraidah memilih mengabdikan hidupnya di madrasah tersebut. Sudah lebih dari 27 tahun ia mengajar tanpa pamrih, melewati perubahan zaman dan pergantian murid. “Prinsip yang selalu saya pegang sejak dulu adalah mengajar karena Allah, bukan karena upah,” katanya, Kamis (27/11/2025).

Meski tubuhnya tak lagi muda, semangatnya tidak pernah padam. Ia tetap mengayuh sepeda peninggalan orang tuanya itu untuk tiba di madrasah setiap hari. Upah yang diterima pun tidak menentu, kadang baru diberikan tiga hingga empat bulan sekali.

Namun, Zuraidah tak pernah mempermasalahkannya. Baginya, melihat seorang murid mampu melafalkan satu huruf hijaiyah dengan benar sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Setiap perjuangannya menyimpan banyak harapan. Melintasi jalan tanah dan permukiman sederhana, ia membawa doa untuk anak-anak yang orang tuanya menitipkan masa depan mereka kepadanya.

“Mengajar adalah ibadah panjang yang membangun fondasi peradaban dari akar yang paling dalam,” tuturnya.

Indra, salah satu mantan muridnya, menyampaikan rasa hormat yang tak pernah pudar kepada guru legendaris itu. “Nggak ada yang bisa menggantikan ketulusan beliau dalam mengajar,” ujarnya.

Sebagian besar murid Zuraidah kini telah dewasa dan berkeluarga. Banyak di antara mereka kembali mempercayakan anak-anaknya untuk belajar di tempat yang sama. (hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN