Guru SD Bergelar S2 Kimia Ini Bongkar Jalan Panjang Temukan Metode Mengajar yang Bikin Murid Betah

Mahniar Sinaga, guru SD Negeri di Medan saat berada dalam Podcast Mistar (foto:susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Mahniar Sinaga, guru SD Negeri 068008 Medan, menjadi salah satu bukti bahwa jalur karier tidak selalu harus linear. Perempuan kelahiran Tanjungbalai, 13 Oktober 1985 itu telah mendedikasikan 14 tahun kariernya di jenjang sekolah dasar. Padahal, ia merupakan lulusan S1 dan S2 Kimia dari Universitas Negeri Medan (Unimed).
Pengalaman mengajarnya bermula pada 2012 sebagai guru honorer di sekolah swasta, hingga menjadi Aparatur Sipil Negara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (ASN PPPK) pada 2021 dan ditempatkan di Kecamatan Medan Tuntungan.
Mahniar menjelaskan bahwa keputusannya menjadi guru SD didasari oleh panggilan jiwa sebagai seorang ibu yang ingin terlibat langsung dalam proses mendidik. Ia memandang peran guru jauh melampaui sekadar sharing knowledge atau memberikan materi pelajaran.
“Guru itu adalah garda terdepan yang memang menanamkan nilai-nilai karakter, menumbuhkan harapan, serta menebalkan garis-garis bakat dan minat murid,” katanya dalam Podcast Mistar Mo Tau Aja, Sabtu (22/11/2025).
Baca Juga: Gaji Guru SDN Disunat Rp327.000 per Bulan, Disdikbud Medan: Terbatas Anggaran, Desember Sudah Normal
Pada awal kariernya, Mahniar sempat dilanda keresahan besar di dalam kelas. Ia merasa murid-muridnya kurang antusias, terutama saat belajar Matematika atau Ilmu Pengetahuan Sosial.
Kondisi ini memicu pertanyaan kritis dalam pikirannya, mengapa kehadirannya seolah tidak dibutuhkan di kelas. Ia menyadari bahwa latar belakang Kimianya, bahkan setelah menempuh S2, tidak sepenuhnya menjawab tantangan manajemen kelas dan perbedaan gaya belajar siswa.
Titik balik datang ketika ia aktif di komunitas guru dan mulai berefleksi. Mahniar menemukan bahwa guru harus terus belajar dan terbuka terhadap perubahan. Ia menekankan pentingnya mengadaptasi praktik baik dari sesama guru.
“Sesama guru itu punya praktik baik yang bisa di-sharing-kan. Jadi saya di situ ‘oh iya juga ya, selama ini saya tidak memanfaatkan guru-guru yang sudah berhasil di kelas untuk saya adaptasi praktik baiknya’. Karena praktik baik itu kan ketika kita di lapangan ya,” ucapnya lagi.
Saat ini, Mahniar secara konsisten menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi (yang pernah ia tulis sebagai praktik baik ala kamar hotel). Strategi ini bertujuan mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang beragam, dengan melibatkan anak sebagai subjek pembelajaran, bukan objek.
Pendekatannya ini menuntut guru memahami kebutuhan anak secara personal, termasuk mengatasi masalah sederhana seperti murid yang belum sarapan atau tidak membawa alat tulis.
“Jadi jengkel itu sudah hilang. Kita yang masuk ke dimensi anak-anak, bukan anak-anak masuk ke dimensi kita. Mereka adalah subjek pembelajar, kita fasilitator. Bukan maunya kita diikuti anak, tapi kita mengikuti keinginan anak,” tuturnya.
Dengan memfasilitasi kebutuhan dasar dan memberikan umpan balik konstruktif secara berkelanjutan (membangun keberlanjutan), Mahniar berhasil menumbuhkan motivasi intrinsik dan kesadaran diri pada murid.
Pengakuan dari murid yang merasa nyaman dan sudah bisa meregulasi diri, serta apresiasi dari orang tua, dianggap Mahniar sebagai penghargaan yang paling luar biasa, jauh melebihi piala atau sertifikat. (hm27)






















