Bukan Cuma Pola Makan, Hubungan Sosial Juga Bisa Bikin Panjang Umur

Ilustrasi proses interaksi social. (Foto: Paxels)
Medan, MISTAR.ID - Menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan tidur cukup selama ini dikenal sebagai bagian penting dari gaya hidup sehat. Namun, hubungan sosial yang sehat ternyata juga memiliki kaitan dengan kesehatan dan umur panjang.
Melansir Woman's Health, sebuah tinjauan meta-analisis menemukan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat memiliki kemungkinan bertahan hidup 50 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial lebih lemah.
Dokter sekaligus penulis Longevity Made Simple, Shad Marvasti, mengatakan hubungan sosial bahkan dapat memengaruhi kesehatan hingga tingkat biologis.
“Orang-orang berpikir tekanan darah dan kadar kolesterol adalah hal yang benar-benar mengukur kesehatan mereka, dan mereka mengabaikan fakta bahwa hubungan dalam hidup juga membentuk kesehatan,” tutur Marvasti.
Hubungan Sosial dan Risiko Kematian
Berbagai penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan adanya kaitan antara hubungan sosial dengan risiko kematian. Sebaliknya, isolasi sosial, kesepian, dan hidup sendirian dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian, terutama pada orang lanjut usia.
Dokter sekaligus pembawa acara podcast Redefining Medicine, Erika Schwartz, mengatakan hubungan sosial merupakan salah satu bagian yang mendukung kehidupan panjang dan sehat.
“Hubungan sosial hanyalah salah satu bagian dari teka-teki yang membuat hidup panjang dan sukses,” kata Schwartz, dikutip dari Woman's Health.
Hubungan sosial yang kuat juga tidak selalu berarti memiliki banyak teman. Koneksi yang bermakna dapat berasal dari pasangan, sahabat, anggota keluarga, hingga orang-orang yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Semakin terhubung seseorang, baik sebagai bagian dari pasangan maupun dengan seorang teman, semakin rendah risiko kematiannya,” ujar Schwartz.
Bukan Sekadar Membuat Bahagia
Manfaat hubungan sosial tidak hanya membuat seseorang merasa ditemani. Studi yang menggunakan data Midlife in the United States menemukan bahwa orang dengan hubungan positif mengalami lebih sedikit keterbatasan fungsi dan memiliki umur lebih panjang.
Schwartz mengatakan, hubungan positif juga dikaitkan dengan lebih sedikit peradangan serta lebih rendahnya kejadian serangan jantung, stroke, dan kanker.
Penelitian lain bahkan menemukan kaitan antara hubungan sosial dan proses penuaan sel. Studi pada 2019 menunjukkan panjang telomer, bagian DNA yang melindungi ujung kromosom, lebih panjang pada orang yang memiliki koneksi sosial.
Telomer akan memendek setiap kali sel membelah dan berkaitan dengan proses penuaan sel.
Meski demikian, bukan berarti seseorang harus memiliki sebanyak mungkin hubungan sosial. Kualitas hubungan tetap menjadi hal penting.
“Hubungan yang toksik dapat berdampak negatif pada kesehatan, sama seperti hubungan yang sehat dapat memberikan dampak positif,” kata Marvasti.
PREVIOUS ARTICLE
Professor Jason Arday Meninggal di Tengah Kontroversi Akademik












