Kuku Natural Lagi Tren: Benarkah Tampil Sederhana Berarti Lebih Hemat?

Ilustrasi: Kuku natural kini mulai menjadi trend dunia. (foto: Getty Images via BBC)
Dalam pandangan Rodulfo, istilah seperti “elegan” atau “berkelas” dapat menjadi cara halus untuk mempertahankan standar kecantikan yang selama ini lebih mengutamakan karakteristik tertentu.
Perdebatan ini menjadi semakin menarik karena seni kuku bukan sekadar tren media sosial.
Sejumlah sejarawan mode mencatat bahwa komunitas kulit hitam, Latin, dan Asia memiliki peran besar dalam perkembangan seni kuku modern.
Nama-nama seperti Josephine Baker, Diana Ross, Donna Summer, dan Florence Griffith-Joyner pernah menjadikan kuku sebagai bagian penting dari ekspresi diri.
Bagi perempuan kulit hitam, misalnya, seni kuku menjadi salah satu ruang untuk mengekspresikan feminitas dan identitas.
Celeste Hampton, nail artist selebritas, mengatakan kepada BBC bahwa seni kuku memungkinkan perempuan kulit hitam mengekspresikan kelembutan, feminitas, dan bentuk kecantikan mereka.
Artinya, kuku yang berwarna-warni atau dihias secara dramatis tidak otomatis berarti berlebihan. Bagi sebagian orang, itu adalah bentuk kreativitas dan identitas.
Hampton mengaku sedih melihat tren kecantikan berubah menjadi alat untuk saling menghakimi.
“Kita menghilangkan kesenangan dari kuku,” katanya kepada BBC.
Menurutnya, siapa pun seharusnya bebas memilih menggunakan kuteks atau membiarkan kuku tetap alami.
Angela Scanlon juga melihat persoalan tersebut dengan sederhana.
“Berhentilah menghakimi diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Indonesia Punya Cerita Sendiri
Di Indonesia, konteksnya tentu berbeda.
Kita memiliki budaya kecantikan yang sangat beragam. Standar “cantik” juga berubah mengikuti tempat, generasi, kelas sosial, dan tren.
Ada yang merasa lebih percaya diri dengan kuku panjang dan nail art. Ada yang memilih kuku pendek karena pekerjaan. Ada pula yang tidak pernah menggunakan kuteks sama sekali.
Bagi pekerja kantoran, misalnya, kuku pendek dan warna netral mungkin terasa lebih praktis.
Bagi sebagian pekerja yang banyak menggunakan tangan, kuku panjang justru bisa mengganggu aktivitas.
Sementara bagi mereka yang menikmati nail art, kuku bisa menjadi ruang untuk bereksperimen dengan warna, motif, dan kreativitas.
Tidak ada satu bentuk kuku yang otomatis lebih “berkelas” daripada yang lain.
Dan mungkin di situlah persoalan sebenarnya.
Ketika tren berubah, masyarakat sering kali ikut mengubah definisi tentang apa yang dianggap rapi, cantik, dan pantas.
Hari ini kuku warna-warni bisa dianggap terlalu ramai. Besok, kuku natural bisa saja dianggap terlalu biasa.
Lusa, tren lain akan datang. (*)




































