Super Combine dan Nasib Pedagang di Pasar Porsea Saat Musim Panen Tiba

Alat panen super combine. (Foto:Nimrot/Mistar)
Toba, MISTAR.ID (27/6/2026)- Seiring berkembangnya teknologi alat pemanen, waktu yang dibutuhkan para dalam memanen padi mereka petani menjadi lebih singkat. Di satu sisi petani diuntungkan, namun di sisi lain ada pihak yang dirugikan.
Salah seorang pedagang di Kelurahan Pasar Porsea, Kabupaten Toba,
S. Sirait, mengatakan sejak munculnya mesin pemanen super combine, pembeli dagangannya berkurang drastis saat panen raya padi tiba. Kondisi ini sudah terasa sejak lima tahun lalu.
"Sebelum adanya super combine, para pemanen dari luar kota setiap sorenya selalu singgah untuk minum kopi dan membeli nasi untuk makan malam," ucapnya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Sirait, memang ada dampak positif dari kemajuan teknologi alat pemanen tersebut, dimana masa musim panen raya cepat selesai.
"Tetapi dampak negatif bagi kami pedagang sangat terasa. Dagangan tidak selaris musim panen raya sebelumnya. Dengan adanya super combine, tenaga pemanen tidak ada yang tinggal di Kecamatan Porsea karena untuk satu super combine pekerjanya hanya sedikit. Dapat dikatakan satu berbanding puluhan, bahkan ratusan orang pekerja manual," ujarnya.
Pedagang lainnya, Nadia Marpaung, mengaku saat panen dilakukan secara manual, di Pasar Porsea sudah berkumpul ratusan pemanen dari empat kecamatan seperti, Kecamatan Porsea, Uluan, Parmaksian dan Kecamatan Siantar Narumonda.
Sebagian besar gaji para pemanen tersebut mereka belanjakan di Pasar Porsea. siklus ini berlangsung selama tiga bulan.
"Tetapi saat ini, setelah adanya super combine Pasar Porsea terlihat sepi, tidak satupun pekerja dari super combine singgah di warung meninggalkan uang mereka untuk pedagang. Waktu panen juga dapat mereka selesaikan dalam satu kecamatan paling lama dua bulan, padahal untuk satu kecamatan bisa mencapai empat bulan menyelesaikan masa panen," tuturnya. (*)























