Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SUMUT

Inflasi Sumut November 2025 Turun Drastis ke 3,96 Persen, Cerminan Kinerja Kepala Daerah

Mistar.idSenin, 8 Desember 2025 pukul 17.51 WIB
inflasi_sumut_november_2025_turun_drastis_ke_396_persen_cerminan_kinerja_kepala_daerah

Ekonom Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo ketika diwawancara di Kantor Gubernur Sumatera Utara Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Senin (8/12/2025). (Foto:Diskominfo Sumut/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Tingkat inflasi year-on-year (yoy) Sumatera Utara (Sumut) mengalami penurunan signifikan, mencapai 3,96 persen pada November 2025. Angka ini turun dari 4,97 persen pada Oktober dan 5,32 persen pada September 2025. Penurunan inflasi ini dianggap sebagai bukti efektivitas intervensi yang dilakukan pemerintah daerah.

Pengamat Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, menegaskan bahwa tren penurunan inflasi merupakan cerminan langsung dari kinerja kepala daerah.

"Inflasi juga menjadi ukuran kinerja kepala daerah," ujarnya di Kantor Gubernur Sumut, Senin (8/12/2025).

Menurut Wahyu, intervensi yang dilakukan Pemprov Sumut, pemerintah kabupaten/kota, dan pemangku kepentingan lain berjalan efektif. Contohnya, Pemprov mendatangkan 50 ton cabai merah dari Jember, Jawa Timur, sebagai langkah strategis menekan inflasi.

"Bisa dilihat, inflasi yang sebelumnya 5,32 persen pada September 2025 kemudian turun," kata Wahyu. Ia menambahkan bahwa inflasi di Sumut sangat sensitif terhadap komoditas seperti cabai merah, bawang merah, beras, dan ayam ras, yang kerap menjadi penyumbang utama.

Kepala Biro Perekonomian Setdaprovsu, Poppy Marulita Hutagalung, menjelaskan bahwa Pemprov Sumut menerapkan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) sesuai Peta Jalan Pengendalian Inflasi Daerah Sumut 2025–2027.

Langkah operasional yang dilakukan meliputi operasi pasar dan sidak pasar, pengawasan gudang distributor, gerakan pangan murah dan perluasan Rumah Pangan Kita (RPK), serta peningkatan peran BUMN/BUMD, UMKM, dan koperasi dalam tata niaga pangan.

Di sektor hulu, Pemprov mengandalkan Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditi Pangan (JASKOP) yang digagas Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution.

Program ini mencakup pengembangan kawasan produksi besar pada 2026:

- Padi: 2.000 hektare di Simalungun dan Deli Serdang.

- Jagung: 2.000 hektare di Simalungun dan Dairi.

- Cabai merah: 200 hektare di Simalungun, Dairi, Humbahas, dan Samosir.

- Bawang merah: 200 hektare di Simalungun, Humbahas, Samosir, dan Dairi.

Pemprov optimistis bahwa penguatan produksi, infrastruktur, dan kerja sama antar daerah akan menjaga kestabilan harga serta mengoptimalkan distribusi, sehingga inflasi dapat tetap terkendali. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN