Saturday, September 26, 2026
home_banner_first
SUMUT

Curah Hujan Tinggi Bantu Petani di Toba, Warga Bantaran Sungai Khawatir Banjir

Mistar.idSabtu, 26 September 2026 pukul 19.57 WIB
curah_hujan_tinggi_bantu_petani_di_toba_warga_bantaran_sungai_khawatir_banjir

Hujan yang turun di Kecamatan Porsea. (foto: Nimrot/Mistar)

news_banner

Toba, MISTAR.ID - Curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir disambut baik petani di Kabupaten Toba karena membantu menyegarkan tanaman yang sebelumnya terdampak cuaca panas. Namun, warga yang tinggal di bantaran sungai merasa khawatir terhadap potensi banjir, terutama ketika hujan deras terjadi pada malam hari.

Salah seorang warga Kecamatan Siantar Narumonda, U. Marpaung, mengatakan hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir membantu kondisi tanaman jagung miliknya.

Ia menyebut, sebelum hujan turun, tanaman jagung miliknya dalam kondisi cukup layu akibat cuaca yang terik. Kondisi tersebut juga diperparah kabut yang menurutnya menyerupai asap atau debu.

“Sebelum dilakukan OMC kondisi tanaman jagung terbilang cukup sekarat, karena cuaca cukup terik ditambah kabut seperti asap atau debu yang menyelimuti membuat tanaman semakin layu. Setelah guyuran hujan tanaman saya kembali segar,” ucapnya, Sabtu (26/9/2026).

Sementara itu, warga Kecamatan Porsea, Riana, mengatakan guyuran hujan memang sangat membantu pertumbuhan tanaman. Namun, ia juga merasa khawatir curah hujan yang cukup tinggi dapat berdampak pada terjadinya banjir, terlebih tempat tinggalnya berada di dekat sungai.

“Selain senang dengan curah hujan, sebab mampu menyuburkan tanaman, tetapi jelas ada rasa khawatir terjadi banjir karena tempat tinggal berdekatan dengan sungai, apalagi curah hujan cukup tinggi terjadi saat malam hari di saat semua orang sedang tidur,” ujar Riana, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Riana, sejak diberlakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan Danau Toba, hujan yang terjadi menurut pengamatannya kerap turun pada malam hari. Kondisi itu membuat tingkat kewaspadaan warga lebih rendah karena sebagian besar sedang beristirahat.

OMC tahap II saat ini dilaksanakan di kabupaten se-kawasan Danau Toba untuk mengantisipasi kemarau serta menjaga dan memenuhi ketersediaan air di Danau Toba.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Toba, Sikkat Sitompul, mengatakan pelaksanaan OMC tahap II telah disepakati berlangsung selama 25 hari. Tahap pertama sebelumnya telah dilaksanakan pada April 2026.

“Disepakati pelaksanaan OMC tahap II sejak 21 September hingga 25 Oktober 2026, di mana tahap pertama telah usai dilaksanakan di April 2026 yang pelaksanaannya juga 25 hari,” ujar Sikkat, Selasa (22/9/2026).

Menurut Sikkat, pelaksanaan OMC merupakan kolaborasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Perum Jasa Tirta I dan Inalum untuk mengantisipasi musim kemarau agar tidak semakin kering serta mendukung kebutuhan energi, industri dan pertanian.

“Dalam 25 hari pelaksanaan penyemaian awan akan dipusatkan di wilayah tangkapan air Danau Toba dalam upaya menjaga aliran air masuk untuk mempertahankan elevasi danau dalam kondisi optimal,” ujarnya.

Sikkat melanjutkan, selain menjaga stabilitas aliran air secara berkelanjutan di daerah tangkapan air, program OMC juga berperan untuk memulihkan kabut asap yang cukup signifikan di langit Tapanuli Raya.

“Sehingga dampak dari OMC sangat kecil terjadinya potensi terjadinya bencana alam, tujuannya untuk meningkatkan potensi hujan dalam waktu berkala, sebab diperkirakan sesuai ramalan BMKG di September dan Oktober masih musim kemarau,” tuturnya. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN