Bawa Nama Asahan di Ajang Internasional, Seniman Tari Keluhkan Minimnya Dukungan Pemda

11 seniman tari Asahan tampil pada ajang Gelar Melayu Serumpun 2026. (foto: istimewa/mistar)
Asahan, MISTAR.ID – Keberhasilan kontingen seni tari Kabupaten Asahan tampil memukau dalam Gelar Melayu Serumpun 2026 di Lapangan Merdeka Medan menyisakan catatan tersendiri. Di balik apresiasi yang diterima di panggung budaya internasional itu, para seniman mengaku masih minim mendapat dukungan dari pemerintah daerah saat mengikuti kegiatan di luar Kabupaten Asahan.
Sorotan tersebut disampaikan Founder Sanggar Embashon Dance Crew, Desy Wulan Pita Sari Damanik, usai membawa 11 penari asal Asahan membawakan karya tari kreasi baru berjudul Semenanjung Rindu pada festival yang berlangsung 27-30 Juni 2026.
Desy merasa prihatin karena selama dua tahun terakhir pihaknya telah mengundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Asahan untuk menghadiri kegiatan budaya yang diikuti sanggar, namun undangan tersebut belum pernah direspons dengan kehadiran.
"Selama dua tahun berturut-turut kami mengundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Asahan untuk hadir, tetapi sampai sekarang belum pernah datang," ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Kondisi tersebut kerap menimbulkan pertanyaan dari peserta, maupun perwakilan instansi daerah lain yang hadir mendampingi kontingen mereka masing-masing. "Jujur, saya kadang merasa malu ketika ditanya oleh dinas dari kabupaten lain. Mereka datang mendampingi delegasinya, sementara kami tidak," katanya.
Desy mengungkapkan, meski membawa nama Kabupaten Asahan dalam festival budaya berskala internasional tersebut, seluruh kebutuhan keberangkatan rombongan ditanggung secara mandiri.
"Kami berangkat sebagai delegasi dari Asahan dengan total 11 penari. Tetapi seluruh biaya kami tanggung sendiri. Kami tetap berangkat karena ingin membawa nama baik daerah dan memperkenalkan budaya Asahan," ucapnya.
Dalam festival tersebut, Sanggar Embashon Dance Crew menampilkan tari kreasi Semenanjung Rindu, sebuah karya yang terinspirasi dari Tari Gubang sebagai salah satu warisan budaya Melayu Asahan. Koreografi garapan Desy dipadukan dengan aransemen musik karya komposer Palui Banaran, sehingga menghasilkan pertunjukan yang memadukan unsur tradisional dan modern.
Penampilan tersebut mendapat sambutan positif dari ribuan penonton serta delegasi budaya dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Korea Selatan, dan China.
Ia menegaskan, kritik yang disampaikannya bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai masukan agar pembinaan dan pendampingan terhadap pelaku seni di Kabupaten Asahan dapat lebih ditingkatkan.
"Harapan kami sederhana. Ketika ada seniman yang berjuang membawa nama Kabupaten Asahan ke luar daerah, apalagi hingga forum internasional, semoga ke depan ada perhatian dan dukungan yang lebih nyata. Dukungan itu bukan hanya soal materi, tetapi juga kehadiran dan apresiasi dari pemerintah daerah," tuturnya.
PREVIOUS ARTICLE
Rakernas XVIII APEKSI 2026, Wali Kota Tebing Tinggi Perkuat Kolaborasi Antar Pemerintah Kota






















