Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SUMUT

Abdikan Diri 24 Jam Siaga di Jembatan Darurat di Desa Garoga

Mistar.idMinggu, 30 November 2025 11.37
EH
MI
abdikan_diri_24_jam_siaga_di_jembatan_darurat_di_desa_garoga

Petugas gabungan melayani masyarakat di jembatan darurat Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. (Foto: Iqbal/Mistar)

news_banner

Tapanuli Selatan, MISTAR.ID

“Baik jadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik." Sebuah penggalan yang dikenal luas identik dengan Jenderal Hoegeng Imam Santoso.

Kalimat yang merangkum nilai integritas Hoegeng selama menjabat Kapolri ke-5 maupun sepanjang kariernya.

Di masa kini, kalimat tersebut tampaknya masih relevan, bahkan bukan hanya ditujukan pada institusi tertentu, tapi bagi semua kalangan. Demikian juga di daerah bencana Alam seperti saat ini.

Sebuah jembatan darurat yang dibangun Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, kini menjadi nafas penghubung masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng).

Jembatan yang terbuat dari sisa-sisa kayu yang terbawa arus banjir bandang itu, kini menjadi satu-satunya akses masyarakat sekitar untuk melakukan beraktivitas. Namun jembatan tersebut bukan terbangun secara alami dari banjir bandang yang menerpa.

Jembatan dengan panjang sekira 30 meter itu terbentang dari partisipasi para petugas yang berjaga di daerah bencana. Kepolisian, TNI, BPBD dan instansi lainnya menjadi garda terdepan membantu masyarakat untuk bisa menyeberangi jembatan itu.

Wadanki (Wakil Komandan Kompi) II Batalyon C Sat Brimob Polda Sumut, Iptu Riswan, disela tugasnya mengatakan jembatan yang menyeberangi sungai itu di bangun tiga hari setelah bencana banjir bandang.

"Awal bencana ini masih fokus ke pencarian korban, hari ketiga (27/11) baru jembatan ini dibuat. Inilah satu-satunya penghubung akses masyarakat antara Tapsel dan Tapteng. Semua elemen termasuk perusahaan setempat di sini juga membantu pembuatan jembatan darurat ini," ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Riswan beranggapan bahwa jembatan darurat tersebut bakal menjadi penyambung hidup masyarakat untuk sementara waktu. Mulai dari warga yang sakit, menyebrang untuk membeli kebutuhan, mengambil bantuan, semua itu bergantung pada jembatan tersebut.

"Kami di sini membantu masyarakat untuk melintas baik itu yang mau belanja sembako, untuk melintas ke daerah yang aman, evakuasi, tentu ini sangat membantu masyarakat," ucapnya.

Masyarakat melewati jembatan darurat di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Minggu (30/11/2025). (Foto: Iqbal/Mistar)

Bahkan dirinya mengatakan sangat sering didapati masyarakat yang sakit hingga orang tua yang hendak melintasi jembatan darurat tersebut.

"Orang tua sering, tergopoh-gopoh, ya kami harus siaga membantu, kemudian yang sakit mau ke posko itu harus kita bantu setiap saat," tutur Riswan.

Riswan mengakui pembuatan jembatan darurat tersebut bukan hal yang mudah. Para petugas gabungan di lokasi bencana harus terlebih dahulu membuka jalan yang tertimbun material-material banjir bandang.

"Kesulitan hingga saat ini, paling pada hari pertama kejadian (25/11/2025) kemarin itu masih banyak jalan-jalan yang tertimbun, jadi butuh waktu bagi kami membuka jalan sehingga jembatan ini bisa dibuat," ujarnya.

Bukan hanya siang dan sore hari, jembatan darurat akan terus dibuka hingga 24 jam lamanya. Para petugas pun harus silih berganti melayani masyarakat yang hendak menyeberang.

"Ya tetap, malam hari juga kami jaga secara bergantian melalui piket yang sudah dibuat. Kenapa kami jaga terus agar tidak ada selisih paham juga di kalangan masyarakat, jadi 24 jam jembatan ini dijaga agar tetap kondusif," ucap Riswan.

Menurut Riswan penjagaan selama 24 jam harus dilakukan, mengingat adanya kemungkinan debit air yang naik dan membahayakan masyarakat yang hendak melintas.

"Malam ini juga harus dijaga, karena antisipasi debit air yang naik. Kemarin malam debit air sempat naik, jadi kayu-kayu jembatan ini tenggelam, dan tidak bisa menyebarang, itu kenapa harus kita jaga sampai 24 jam," ucapnya.

Petugas gabungan melayani masyarakat di jembatan darurat Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. (Foto: Iqbal/Mistar)

Seakan sudah menjadi kewajiban dan bukan hal baru, Riswan mengatakan para petugas gabungan di lokasi harus tetap siaga kapanpun dibutuhkan oleh masyarakat.

"Posko kami semua tetap dibuka 24 jam, itu semua untuk masyarakat, posko kesehatan juga sudah kami siapkan, semua untuk masyarakat. Sudah biasa bagi kami seperti ini, bukan yang pertama bertugas di lokasi bencana, jadi ya beginilah," tuturnya.

Riswan berharap bantuan berupa fasilitas yang lebih layak agar mobilitas masyarakat bisa lebih terjaga.

"Harapannya agar instansi terkait, pemerintah segera memperbaiki jembatan agar memudahkan kegiatan pendidikan dan ekonomi lainnya," katanya. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN