Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Tragedi Desa Garoga, Batang Toru: Penantian Tiga Hari di Tengah Lumpur dan Mayat Bergelimpangan

Mistar.idSabtu, 29 November 2025 10.01
journalist-avatar-top
tragedi_desa_garoga_batang_toru_penantian_tiga_hari_di_tengah_lumpur_dan_mayat_bergelimpangan

Proses evakuasi di lokasi sekitar 20 mayat ditemukan hingga Jumat (28/11/2025). (foto: iqbal/mistar)

news_banner

Laporan: M Iqbal, Tapsel

TIGA hari setelah banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan Desa Garoga, Aek Ngadol dan Huta Godang di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel), suasana duka masih menyelimuti warga yang ditinggalkan tanpa rumah, tanpa harta, bahkan tanpa kabar dari keluarga mereka.

Saat tim evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Polda Sumatera Utara berhasil menembus isolasi, Jumat (28/11/25) pagi, yang tersisa hanyalah tatapan kosong para penyintas di tengah puing, lumpur, dan jenazah yang baru ditemukan. Sekilas mereka terlihat linglung. Sebuah potret pilu dari bencana paling mematikan yang pernah mereka alami.

November 2025 menjadi hari yang memilukan bagi mereka. Banjir dan longsor meluluhlantakkan desa mereka. Garoga, adalah desa paling ujung di Tapanuli Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah. Dua desa lainnya yang berdekatan adalah Aek Ngadol dan Huta Godang yang juga terkena longsor.

Saat tiba di desa ini, pemandangan mencekam langsung terpampang. Kondisinya mirip pasca-tsunami yang melanda Aceh 2004 silam. Sejumlah rumah hampir rata dengan tanah setelah tersapu lumpur bercampur serpihan kayu dan gelondongan kayu.

Hanya ada beberapa rumah yang masih berdiri kokoh. Sebuah mobil bahkan terperosok hingga separuh badan. Sebuah gambaran yang mengerikan kala semburan longsor menghantam perkampungan ini.

Dalam kejadian itu, tak ada yang bisa diselamatkan. Banyak warga yang kehilangan anak, ibu, ayah dan sanak saudara. Mereka pun mengungsi ke rumah bertingkat atau membuat tenda pengungsian sementara di desa sebelah. Mereka tak memiliki apa-apa. Yang tersisa hanya baju basah yang melekat di badan.

Kondisi Desa Huta Godang dan Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan usai diterjang banjir bandang. (foto: iqbal/mistar)

Sisakan Baju di Badan

Hotma Tua Panjaitan belum mampu menghapus kesedihannya. Ia masih berharap ibu dan saudaranya selamat. Ibunya kini belum diketahui keberadaannya semenjak peristiwa banjir bandang tersebut.

"Ibu kandung saya belum ditemukan, kemudian saudara-saudara juga belum ditemukan," ujarnya kepada Mistar di Desa Garoga, Jumat (28/11/25).

Pria 39 tahun tersebut mengatakan, sang ibu masih terlihat di jalan desa saat air masih belum tinggi. Namun saat air makin meninggi, sang ibu tak lagi bisa dievakuasi. "Ibu saya di jalan umum, saya sedang evakuasi anak-anak, masih terlihat ibu saya saat itu," ucapnya.

Hotma Tua mengatakan, para warga sempat mengevakuasi diri sendiri ke tempat yang lebih tinggi sebelum petugas datang. "Cuma bisa evakuasi ke rumah yang tinggi saja, ke puskesmas atau tempat yang aman lainnya," tuturnya.

Rahmad Lubis juga menceritakan kesaksiannya saat melewati peristiwa kelam yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, hingga membuat trauma yang mendalam.

"Kejadiannya ini hari Selasa (25/11/2025) kemarin. Airnya pertama kecil, lalu bertambah, lalu air meluap. Kayu-kayu besar pun terbawa arus, makanya rumah kami hancur semua," ujarnya kepada Mistar.

Rahmad menceritakan bagaimana mereka berhamburan dalam kepanikan menyelamatkan diri ke rumah kepala desa atau mencari tempat yang tinggi agar selamat dari luapan banjir dan longsor. "Sedih lah kalau diingat. Masih ada rasa trauma di kami ini," ucapnya.

Rahmad tinggal berdua dengan istri. Ia tak sempat membawa apa pun. Yang terpenting baginya bisa selamat dari air lumpur yang menerjang seperti air bah. Saat itu ia hanya bisa pasrah.

"Tidak ada yang tersisa, motor saya pun hilang tidak tahu dimana. Tinggal baju di badan ini saja, tapi mau bagaimana lagi?" ujarnya lirih.

Ia mengatakan, selama berpuluh tahun tinggal di Huta Godang, baru kali ini didapati banjir bandang di desa tersebut. "Saya tinggal disini sejak tahun 1975. Kurang lebih 50 tahun di Huta Godang ini. Pernah banjir, tapi inilah yang paling parah," tuturnya.

Rahmad mengaku tidak mampu membahas lebih jauh terkait desa yang ditempatinya tersebut. "Rumah warga hancur, sekolah hancur, pasar hancur, rumah ibadah pun begitu. Entah jadi apalah kampung ini jadinya nanti," katanya dengan suara parau.

Kisah lain tidak kalah mencekam dialami Abdul Simatupang. Dengan terbata-bata dan sedikit trauma, ia mengatakan air datang dalam tiga gelombang.

Pertama air datang dan membanjiri kampung mereka, kemudian datang lagi dan ketiga kalinya air menerjang dengan membawa lumpur, pasir dan kayu dan langsung menghantam rumah warga.

"Hanya sekitar 5 menit saja kejadian dahsyat itu, tapi langsung menghancurkan semuanya. Saat itu aku sudah pasrah bang, seperti mau mati rasanya," kenang Abdul.

Pada kejadian itu, Abdul sempat tertimbun di rumah. Sekujur tubuhnya sudah penuh dengan lumpur. Ia pun tidak tahu bagaimana ia bisa diselamatkan.

Rumah Hancur Merata

Desa Huta Godang dan Desa Garoga dan sekitarnya terpantau lumpuh dari aktivitas biasanya sejak peristiwa yang menghantam, Selasa (25/11/25) lalu.

Saat ini warga Desa Huta Godang, Garoga dan sekitarnya juga sedang mengevakuasi benda-benda yang masih dapat diselamatkan, serta membersihkan area perkampungan.

Pantauan Mistar di lokasi, Huta Godang dan Garoga serta desa-desa sekitarnya berada kurang lebih 39 kilometer dari pusat Kota Padangsidimpuan dengan jarak tempuh sekitar 1 jam.

Sebuah mobil putih terjerembab di halaman rumah menyisakan betapa kuatnya terjangan air. Bukan hanya permukiman, di desa tersebut terlihat sisa-sisa fasilitas publik seperti pasar, rumah ibadah hingga sekolah yang kini sudah tidak bisa digunakan.

Korban selamat banjir bandang Batang Toru, Abdul Simatupang (kiri) dan Hotma Tua Panjaitan (kiri). (foto: iqbal/mistar)

Tiga Hari Membuka Isolir

Proses melakukan evakuasi menuju Desa Garoga dan Huta Godang membutuhkan waktu 3 hari. Pihak BPBD harus melewati sejumlah titik longsor yang menghambat perjalanan ke sana. Diperkirakan ada 6 titik longsor yang harus dilewati untuk menuju Desa garoga.

Sepanjang jalan untuk menuju lokasi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sisa lumpur masih menggunung di sejumlah jalanan, sembari berharap pada perjalanan menuju desa tersebut tidak terjadi longsor susulan.

Danyon Batalyon C Sat Brimob Polda Sumut, Kompol Zaenal Muhlisin mengatakan, kedua desa tersebut terletak di kawasan perbatasan Tapsel dan Tapteng. "Ini adalah desa terakhir Tapanuli Selatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Tengah," ujarnya saat ditemui di lokasi evaluasi, Jumat (27/11/25) siang.

Proses pembersihan material tanah longsor pun akhirnya selesai sehingga jalur dari Kota Padangsidimpuan menuju Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) perlahan bisa dibuka.

Penanggungjawab Posko BPBD Tapsel Tetty mengatakan jalur sudah dibuka bertahap mulai, Kamis (27/11/25) malam. "Iya sudah bisa dilewati menuju Kecamatan Batang Toru selepas dibersihkan kemarin," ujarnya, Jumat (28/11/25) pagi.

Namun, Tetty mengatakan proses masih dibuat dengan sistem buka dan tutup dan diutamakan kendaraan prioritas terlebih dahulu. "Memang masih sistem buka tutup karena yang diutamakan untuk kendaraan prioritas, seperti pembawa logistik bantuan," ucapnya.

Tetty mengungkapkan, jalur tanah longsor yang sudah dibuka tersebut sempat mengalami longsor kembali. "Iya tadi malam sempat longsor lagi, tapi bukan lokasi baru. Material yang sudah dibersihkan turun lagi," tuturnya.

Tim BPBD juga mendapat kabar dari kepala desa yang menyebutkan adanya desa yang terdampak cukup parah di Desa Garoga Batang Toru. Namun medan yang cukup sulit dan titik longsor di bahu jalan membuat mereka belum mampu mengirimkan bantuan secepatnya kesana.

Tetty mengimbau masyarakat agar tetap waspada melewati jalur tersebut. "Tetap berhati-hati, jika tidak perlu sekali, jangan bepergian," katanya.

Diketahui, Kecamatan Batang Toru merupakan salah satu daerah di Tapsel yang baru mendapatkan bantuan setelah 3 hari melewati sejumlah titik longsor setelah jalur Angkola Barat menuju Batang Toru terputus akibat tanah longsor.

Akses menuju Desa Garoga dan Godang yang porak poranda baru bisa dilalui setelah 3 hari dengan melakukan pembersihan di 6 titik longsor dari Kecamatan Sipirok, Ibu Kota Tapsel. (foto: iqbal/mistar)

Korban Meninggal Terus Bertambah

Evakuasi korban di Kecamatan Batang Toru khususnya di Desa Huta Godang, Garoga dan sekitarnya masih terus dilakukan oleh petugas. Jenazah-jenazah yang sudah dievakuasi silih berganti masuk ke Puskesmas Rawat Inap Batang Toru.

Kepala Puskesmas Batang Toru, Elida Handriani Batubara mengatakan, hingga sore, setidaknya tercatat 31 jenazah yang masuk korban banjir bandang di Batang Toru.

"Jenazah yang dibawa ke Puskesmas Batang Toru total sudah ada 31 jenazah, termasuk yang hari ini. Kalau yang masuk hari ini ada 10 jenazah," jelasnya.

Sementara itu, ratusan pasien luka-luka pun masuk ke Puskesmas yang berada di Jalan Lintas Sibolga-Sidempuan tersebut. "Kalau yang luka ringan dan luka berat berjumlah 166 orang di puskesmas ini. Kalau di posko itu lebih kurang ada 200 orang," ucap Elida.

Elida menjelaskan jenis luka yang ditemui dari korban banjir bandang tersebut. "Luka-luka ada yang di kepala mungkin terkena benda tumpul karena banjir. Kemudian kami ada juga menangani luka jahitan, lalu ada yang tersengat listrik dan luka di tubuh lainnya," ujarnya.

Penyakit susulan seperti diare pun sudah mulai ditemukan oleh Puskesmas Batang Toru. "Sudah mulai (penyakit susulan), karena di posko sudah ada juga yang diare dan batuk. Mungkin terhirup air bercampur pasir," tuturnya.

Di balik pelayanan tersebut, Elida mengakui pihaknya tak luput dari kendala. Saat ini Puskesmas Batang Toru terkendala ketersediaan listrik dan air bersih.

"Kalau obat-obat sudah cukup, tapi kalau memang tidak bisa kami tangani, kami rujuk ke rumah sakit di Sipirok Tapsel. Kalau tenaga medis awal-awalnya kewalahan, tapi sekarang sudah bisa. Genset memang ada, tapi kan terbatas," katanya.

Meski belum dapat memastikan secara rinci, Danyon Batalyon C Sat Brimob Polda Sumut Zaenal Muhlisin mengatakan kemungkinan jumlah korban akan bertambah karena masih ada warga yang hilang atau belum ditemukan hingga saat ini.

Ia mengatakan saat ini petugas evakuasi masih terus berupaya melakukan pencarian korban yang hilang akibat banjir bandang. Akses dari Tapsel menuju Tapteng dan Sibolga pun masih terputus. Apalagi jembatan sungai Desa Garoga rusak parah dihantam banjir bandang.

"Desa inikan perbatasan dengan Tapteng. Jembatan Garoga yang di perbatasan putus. Jadi belum bisa dilalui mobil ataupun motor, paling hanya bisa pejalan kaki," tuturnya.

Pantauan Mistar di lokasi proses evakuasi korban terus dilakukan. Sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 WIB, tim evakuasi menemukan sejumlah korban meninggal dunia yang tertimbun lumpur dan material rumah. Terakhir dilaporkan seorang anak berusia 8 tahun dan orang dewasa sekitar 40 tahunan juga berhasil ditemukan di Desa Huta Godang.*

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN