Wednesday, June 24, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Overkapasitas, Lapas Pematangsiantar Diterpa Isu Narkoba hingga Penipuan

Mistar.idSelasa, 5 Mei 2026 pukul 11.44 WIB
overkapasitas_lapas_pematangsiantar_diterpa_isu_narkoba_hingga_penipuan

Kepala Pengamanan Lapas (KPLP), Roiko Sianturi. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pematangsiantar mengalami overkapasitas lebih dari 100 persen. Selain overkapasitas, beredar pula kabar adanya praktik ilegal, mulai dari peredaran narkotika hingga sindikat penipuan daring yang dikelola narapidana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas terlarang ini diduga bukan rahasia baru di lingkungan tersebut. Seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya mengklaim lemahnya pengawasan menjadi alasan peredaran narkotika bisa terjadi di lapas.

"Praktik ini sudah berlangsung lama. Logikanya, tanpa ada lampu hijau atau keterlibatan oknum, mustahil barang terlarang bisa menembus penjagaan ketat," ucap.

Selain narkoba, ada pula praktik Palodes dari dalam lapas. Palodes sebutan lokal untuk aksi penipuan telepon atau daring yang dilakukan narapidana untuk menipu warga.

Ada pula informasi adanya diskriminasi pelayanan. Narapidana dengan kemampuan finansial yang bagus diberikan fasilitas kamar yang lebih nyaman. Berbeda dengan narapidana yang tidak memiliki finansial cukup.

Menanggapi isu tersebut, Kepala Pengamanan Lapas (KPLP), Roiko Sianturi, membantah keras adanya keistimewaan bagi narapidana yang memiliki uang. Begitu juga dengan peredaran barang terlarang.

Terkait isu komunikasi ilegal untuk penipuan, Roiko juga menyebutkan pengawasan akses komunikasi dilakukan dengan sangat ketat. Warga binaan diklaim hanya bisa berkomunikasi melalui warung telekomunikasi (Wartel) resmi yang dipantau petugas.

"Jangankan narkoba, korek api saja dilarang masuk. Kami berkomitmen menjaga integritas lapas," tuturnya kepada Mistar, Selasa (5/5/2026).

Menanggapi masalah overkapasitas, kondisi riil di lapangan justru sangat memprihatinkan akibat lonjakan jumlah penghuni.

“Kapasitas seharusnya 870 orang, tapi saat ini jumlah warga binaan mencapai 1.863 orang. Dengan kondisi seperti ini, tidak masuk akal ada fasilitas mewah,” ujarnya. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN